Minggu, 25 Oktober 2015 Hari Minggu Biasa XXX

Minggu, 25 Oktober 2015
Hari Minggu Biasa XXX
 
“Di dunia ini aku tidak bisa melihat Putra Allah yang Mahatinggi dengan mataku sendiri, kecuali melihat Tubuh dan Darah-Nya yang Mahakudus” – St. Fransiskus Assisi

 
Antifon Pembuka (Mzm 105:3-4)

Bersukacitalah hati orang yang mencari Tuhan! Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah selalu wajah-Nya!

Let the hearts that seek the Lord rejoice; turn to the Lord and his strength; constantly seek his face.

Lætetur cor quærentium Dominum: quærite Dominum, et confirmamini: quærite faciem eius semper.


Doa Pagi


Allah Bapa, sumber kebahagiaan sejati, bukalah mata hati kami untuk melihat karya-Mu yang agung dalam hidup kami sehari-hari. Semoga, kami pun rela berbagi kebahagiaan dan saling bekerjasama untuk menggapai kebahagiaan hidup yang sejati, yaitu bersatu dengan Yesus Kristus, Putra-Mu. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Yeremia (31:7-9)
    
  
"Dengan hiburan Aku akan membawa orang buta dan lumpuh."
    
Beginilah firman Tuhan, “Bersorak-sorailah bagi Yakub dengan sukacita, bersukarialah tentang pemimpin bangsa-bangsa! Kabarkanlah, pujilah dan katakanlah: Tuhan telah menyelamatkan umat-Nya, yakni sisa-sisa Israel! Sungguh, Aku akan membawa mereka dari tanah utara, dan akan mengumpulkan mereka dari ujung bumi; di antara mereka ada orang buta dan lumpuh, ada perempuan hamil bersama dengan himpunan perempuan yang melahirkan; dalam kumpulan besar mereka akan kembali ke mari! Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, lewat jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi Bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 830
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu, Tuhan, karya agung-Mu, karya keselamatan.
Ayat. (Mzm 126:1-2ab.2cd-3.4-5.6, Ul:lh.3)
1. Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tawa ria, dan lidah kita dengan sorak-sorai.
2. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa, "Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
3. Pulihkanlah kepada kami, ya Tuhan, seperti memulihkan batang air kering di tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
4. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (5:1-6)
   
"Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut tata imamat Melkisedek."
      
Saudara-saudara, setiap imam agung, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan kurban karena dosa. Seorang imam agung harus dapat memahami orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan. Karena itu ia harus mempersembahkan kurban karena dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Tidak ada seorang pun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri! Sebab setiap imam agung dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun. Demikian pula Kristus! Ia tidak mengangkat diri-Nya sendiri menjadi Imam Agung, tetapi diangkat oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: Anak-Kulah Engkau! Pada hari ini engkau telah Kuperanakkan atau seperti firman-Nya dalam suatu nas lain, Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya menurut tata imamat Melkisedek.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = bes, gregorian, PS 954
Ref. Alleluya
Ayat. (2Tim 1:10b)
Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut, dan menerangi hidup dengan Injil.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (10:46-52)
  
"Rabuni, semoga aku dapat melihat."
  
Pada suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Yerikho. Ketika Yesus keluar lagi dari kota itu bersama murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, duduklah di pinggir jalan seorang pengemis yang buta,bernama Bartimeus, anak Timeus. Ketika didengarnya bahwa yang lewat itu Yesus dari Nazaret, mulailah ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku.” Banyak orang menegurnya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Maka Yesus berhenti dan berkata, “Panggillah dia!” Mereka memanggil si buta itu dan berkata kepadanya, “Kuatkanlah hatimu! Berdirilah, Ia memanggil engkau.” Orang buta itu lalu menanggalkan jubahnya. Ia segera berdiri, dan pergi mendapatkan Yesus. Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?” Jawab orang buta itu, “Rabuni, semoga aku dapat melihat!” Yesus lalu berkata kepadanya, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia! Lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
  
Renungan

    
Suatu pagi tatkala hujan menyirami kota Medan, saya bertemu dengan penjaja koran yang sama, setiap kali berhenti di “traffic light”. Ia berpakaian agak unik karena seluruh tubuhnya ditutupi dengan sejenis jas hujan tipis yang terbuat dari bahan plastik bening. Kehadirannya seakan memperkaya kesemrawutan lalu lintas di perempatan. Namun ia tetap saja dengan tekun menjajakan koran yang harganya tak seberapa itu. Kembali ia menyapaku dan menawarkan koran. Kali ini kegigihannya benar-benar mengalahkan keangkuhanku. Saya pun membeli korannya.

Suatu hari, saya sempat berdialog dengannya dan saya pun sangat tersentuh. Saat saya tanya apakah ia mengenal saya, ia menjawab, “Ya”. “Lantas mengapa selalu menjajakan koran meskipun sudah tahu bahwa kemungkinan besar saya tidak akan beli?” tanyaku lagi. Ia berkata, “Apabila saya memiliki pemikiran seperti bapak pasti saya tidak bisa membiayai keluarga saya, karena sebagian besar pengendara kendaraan tidak membeli koran saya, tapi puji Tuhan, masih ada sebagian kecil yang tetap membelinya dan saya pun bisa hidup bertahun-tahun dari usaha ini.”

Tatkala mengadakan perjalanan menuju ke Yerusalem melalui Yerikho, untuk merayakan Paskah, Yesus dikelilingi oleh banyak orang yang mau belajar dari-Nya, sebab Ia mengajar sambil berjalan. Jarak Yerikho menuju Yerusalem hanya sekitar 15 mil. Ada ketentuan bahwa setiap laki-laki yang berusia 12 tahun yang tinggal 15 mil dari Yerusalem harus menghadiri perayaan Paskah. Kota Yerikho memiliki ciri khusus. Lebih 20 ribu imam dan 20 ribu orang Lewi bekerja di Bait Allah, yang dibagi dalam 26 kelompok dan bergiliran.

Di pintu Gerbang Yerikho bagian Utara duduklah seorang pengemis, namanya Bartimeus. Sebagai seorang yang buta ia memiliki indra pendengaran dan perasaan yang jauh lebih kuat dibandingkan orang normal. Ia diberitahu bahwa Yesus lewat! Spontan ia berteriak keras bukan sekadar menarik perhatian Yesus namun sebagai ungkapan iman kepercayaannya untuk dipulihkan. Maka, semakin ia dilarang semakin menjadi-jadi teriakannya. Kegigihannya mengalahkan formalitas sekitarnya dan meruntuhkan jarak penghalang antara dirinya dan Yesus yang dipisah oleh kerumunan manusia. Yesus pun menangkap pesan iman yang sangat jelas dari kegigihan Bartimeus, sehingga ia disembuhkan, “Imanmu telah menyelamatkan engkau,” kata Yesus.

Dalam sejarah iman kita menyaksikan, kebebalan hati Agustinus pun luluh tatkala berhadapan dengan kegigihan doa dan air mata ibunya, St. Monika selama 20 tahun, sehingga ia bertobat dan menjadi orang kudus. Dari kebijaksanaan alam kita belajar bahwa setegarnya batu karang di tepi pantai pasti akan hancur juga oleh deburan ombak. Namun dalam hidup kita tak luput dari kerapuhan yang menghentikan langkah perjuangan kita dalam usaha, keluarga, membina relasi dan upaya meretas masalah kehidupan.

Lewat kisah kehidupan, kebijaksanaan alam dan pengalaman iman Bartimeus kita dapat memaknai arti usaha, usaha bukan berorientasi pada hasil namun proses. Dalam proses inilah dibutuhkan kekuatan iman sehingga tatkala kita bersentuhan pada akhir dari upaya, mata iman kita terbuka hingga mampu menemukan hikmah dan buah dari semua upaya yang telah dilakukan. Karena itu, jangan menyerah! [Aditya/RUAH]

Antifon Komuni (Bdk. Mzm 20:6)

Kami akan bersorak-sorai karena karya penyelamatan-Mu. Kami akan bergembira dalam nama Allah kita.

We will ring out our joy at your saving help and exult in the name of our God.

Atau (Bdk. Ef 5:2)

Kristus telah mengasihi kita dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan yang harum bagi Allah.

Christ loved us and gave himself up for us, as a fragrant offering to God.

Atau: Lætabimur in salutari tuo: et in nomine Domini Dei nostri magnificabimur.

1 komentar:

  1. Terimakasih, cerita ini sangat disukai anak saya. Masukan dari kami: agar menambahkan doa di akhir renungan, sehingga makin melengkapi penghayatan iman kami. Terimakasih.

    BalasHapus


Mari budayakan berkomentar positif, setiap komentar yang bermuatan negatif, menyinggung SARA, spam, menggunakan bahasa kurang sopan, memicu pertikaian, atau tidak berhubungan dengan topik terkait tidak akan ditayangkan/dihapus
.
RENUNGANPAGI tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

The views expressed in the contents above are those of our users and do not necessarily reflect the views of RENUNGANPAGI