Kamis/Minggu, 07/10 Juni 2012 Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Kamis, 07 Juni 2012 atau
Minggu, 10 Juni 2012* Kan. 1246 § Konferensi para Uskup dengan persetujuan sebelumnya dari Takhta Apostolik, dapat menghapus beberapa dari antara hari- hari raya wajib itu atau memindahkan hari raya itu ke hari Minggu.
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari. Ia menurunkan salju seperti bulu domba dan menghamburkan embun beku seperti abu. (Mzm 147:15-16)


Antifon Pembuka (Mzm 80:17)

Umat-Mu Kauberi makan sari gandum dan Kaupuaskan dengan madu kuat.


Doa


Allah Bapa kami yang maha pengasih dan penyayang, Engkau tak henti-hentinya memperkuat Gereja dengan santapan tubuh dan darah Putra-Mu. Semoga kami selalu memperoleh kekuatan baru setiap kali kami menyambut tubuh dan darah Putra-Mu Yesus Kristus, Tuhan kami yang hidup dan bertakhta bersama Bapa dalam persatuan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.


Bacaan dari Kitab Keluaran (24:3-8)


Ketika Musa turun Gunung Sinai, dan memberitahukan kepada bangsa Israel segala firman dan peraturan Tuhan, maka seluruh bangsa itu menjawab serentak, “Segala firman yang telah diucapkan Tuhan itu, akan kami laksanakan!” Musa lalu menuliskan segala firman Tuhan itu. Keesokan harinya, pagi-pagi, didirikannya mezbah di kaki gunung itu, dengan dua belas tugu sesuai dengan kedua belas suku Israel. Kemudian disuruhnyalah orang-orang muda dari bangsa Israel mempersembahkan kurban bakaran dan menyembelih lembu-lembu jantan sebagai kurban keselamatan kepada Tuhan. Sesudah itu Musa mengambil sebagian dari darah itu, lalu ditaruhnya ke dalam pasu; sebagian lagi dari darah itu disiramkannya pada mezbah itu. Lalu diambilnya kitab perjanjian itu dan dibacakannya, dan bangsa itu mendengarkan. Lalu mereka berkata, “Segala firman Tuhan akan kami laksanakan dan kami taati!” Kemudian Musa mengambil darah itu dan memercikkannya kepada bangsa itu seraya berkata, “Inilah darah perjanjian yang diikat Tuhan dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.”

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, 3/4, PS 856

Ref. Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu, Inilah Darah-Ku yang ditumpahkan bagimu. Lakukanlah ini akan peringatan kepada-Ku.
Ayat. (Mzm 116:12-13.15.16b-18; Ul:
lh. 1Kor 10: lh.16)
1. Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan, segala kebaikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama Tuhan.
2. Sungguh berhargalah di mata Tuhan, kematian semua orang yang dikasihi-Nya, Ya Tuhan, aku hamba-Mu, aku hamba-Mu, anak sahaya-Mu, Engkau telah melepaskan belengguku.
3. Aku akan mempersembahkan kurban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama Tuhan. Aku akan membayar nazarku kepada Tuhan di depan seluruh umat-Nya.

Bacaan dari Surat kepada orang Ibrani (9:11-15)


Saudara-saudara terkasih, Kristus telah datang sebagai Imam Agung demi kesejahteraan masa yang akan datang; Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan lebih sempurna, yang bukan buatan tangan manusia, artinya yang tidak termasuk ciptaan ini, dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat pelunasan yang kekal. Sebab, jika darah domba dan lembu jantan dan percikan abu lembu muda mampu menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang atas dorongan Roh Abadi telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tidak bercacat; betapa darah ini akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. Karena itu Kristus adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah


Madah Ekaristi, sol = es, m.7, PS 556
(fakultatif)
Syair: Lauda Sion, ayat 1-4.5-8 Thomas dari Aquino 1263/64, terj. Komlit KWI 1992
Lagu: Prancis abad ke-12, Graduale Romanum 1974

1. Sion, puji Penyelamat, Sang Pemimpin dan Gembala dalam kidung pujian.
2. Pujilah sekuat hati, kar'na Dia melampaui puji yang kaulambungkan.
3. Hari ini yang tersaji: Roti Hidup yang dipuji, sumber hidup yang kekal.
4. Itulah yang dihidangkan bagi para rasul Tuhan: Tak perlu diragukan.
5. Lihat Roti malaikat, jadi boga peziarah: sungguh itu roti putra, anjing jangan diberi.
6. Inilah yang dilambangkan waktu Ishak dikurbankan: Domba Paskah disajikan, dan manna dihujankan.
7. Yesus, Roti yang sejati, Kau Gembala murah hati, s'lalu lindungilah kami, dan tunjukkan pada kami bahagia yang kekal.
8. Dikau Allah mahakuasa, bimbing kami, insan fana, undang kami dalam pesta, dan jadikan kami warga umat kudus bahagia. Amin. Alleluya.

Bait Pengantar Injil, do = d, 2/2, PS 953
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (lih. Yoh 6:51) 2/4
Akulah roti hidup yang turun dari surga; siapa yang makan roti ini akan hidup selama-lamanya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (14:12-16.22-26)


Pada hari pertama Hari Raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid berkata kepada Yesus, “Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Lalu Yesus menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan, “Pergilah ke kota! Di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia, dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Guru berpesan, ‘Di manakah ruangan yang disediakan bagi-Ku untuk makan Paskah bersama dengan murid-murid-Ku? Lalu orang itu akan menunjukkan kepadamu sebuah ruangan yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!’” Maka berangkatlah kedua murid itu. Setibanya di kota, mereka dapati semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, membagi-bagi roti itu lalu memberikannya kepada para murid, seraya berkata “Ambillah, inilah Tubuh-Ku!” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur, lalu memberikannya kepada para murid, dan mereka semua minum dari cawan itu. Dan Yesus berkata kepada mereka, “Inilah Darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak lagi akan minum hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya yang baru, yaitu dalam Kerajaan Allah.” Sesudah menyanyikan lagu pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun.

Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Antifon Komuni (Yoh 6:56)


Barangsiapa makan tubuh-Ku dan minum darah-Ku tinggal dalam Aku dan Aku dalam dia.


Renungan


Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (Secara tradisonal, pada awalnya sebutan yang tepat untuk Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus adalah Sollemnitas Sanctissimi Corporis Christi ) yang kemudian dalam penggunaan populer digunakan frasa “Corpus Christi”, dalam bahasa Inggris: The Solemnity of the Most Holy Body and Blood of Christ) dimulai dari penglihatan Yesus kepada St. Yuliana dari Li├Ęge. Ada tiga alasan mengapa Yesus menghendaki Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus: 1) Agar iman akan Sakramen Mahakudus diperteguh; 2) Agar umat beriman diperkuat dalam mencapai kesempurnaan melalui kasih yang mendalam dan sembah sujud kepada Sakramen Mahakudus; 3) Untuk mengadakan silih bagi penghinaan dan kurangnya rasa hormat terhadap Sakramen Mahakudus. Pada tanggal 08 September 1264 Paus Urbanus IV memaklumkan agar Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dirayakan setiap tahun pada hari Kamis sesudah Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Di Indonesia, sejak tahun 1970, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dirayakan pada hari Minggu sesudah Hari Raya Tritunggal Mahakudus.

Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Sakramen Mahakudus dihormati secara khusus dengan upacara meriah dimana Sakramen itu diarak dari satu tempat ke tempat lain. Sakramen Mahakudus ini hendaknya diperlihatkan agar umat menghormati dan menyembahnya (Adorasi). Melalui Adorasi dan Prosesi Sakramen Mahakudus, kita dapat melihat betapa Yesus Kristus senantiasa dekat dengan kita, mencintai kita, dan menyerahkan seluruh hidup-Nya bagi kita.

Hari pembebasan dari perbudakan Mesir, hari raya Roti Tidak Beragi, hari pada waktu orang menyembelih domba Paskah, merupakan tiga sebutan untuk satu peristiwa. Merupakan satu hari bersejarah, hari raya besar untuk seluruh bangsa Israel, hari raya yang mengingatkan mereka akan perjuangan untuk bebas dari perbudakan Mesir. Sejauh iman Israel menunjukkan bahwa pembebasan dari Mesir terjadi hanya karena tangan kuat Yahweh, Allah Israel.

Di samping itu, sejarah iman Israel menunjukkan bahwa hari pembebasan dari Mesir bukanlah puncak perjuangan. Sebaliknya, ini merupakan awal perjuangan menuju tanah perjanjian yang harus ditempuh dalam perjalanan iman penuh tantangan selama 40 tahun dengan Musa sebagai pemimpinnya. Pada hari raya itulah Yesus merayakan bersama-sama murid-murid-Nya perayaan itu di suatu tempat, yang secara istimewa ditunjukkan oleh Yesus.

Di tengah perayaan itu Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata, "Ambillah, inilah tubuh-Ku." Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu. Ia pun berkata kepada mereka, "Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah." Ini adalah suatu perbuatan yang belum dimengerti oleh para murid. Yesus mengajak para murid untuk melihat masa depan baru yang disebut Yesus dengan masa Kerajaan Allah. Suatu masa di mana Yesus menentukan saat Ia akan meminum hasil pokok anggur yang baru. Dengan mengutarakan hal itu, Yesus mau membuka sejarah pengalaman iman yang baru. Sejarah tentang pembebasan manusia dari dosa sekaligus awal dari peziarahan manusia untuk menuju tanah terjanji surgawi.

Israel keluar dari Mesir karena tangan Allah yang kuat. Demikian juga untuk keluar dari perbudakan dosa, manusia membutuhkan tangan Allah yang kuat. Hanya tangan yang kuatlah mampu mengedarkan roti dan anggur penderitaan. Tangan Yesus kuat, namun penuh kelembutan mengedarkan roti dan anggur penderitaan pada hari raya besar Yahudi. Misteri ini menjadi semakin dimengerti ketika Yesus bergantung pada salib dengan tangan terentang. Tangan-Nya menjadi tangan kuat yang menampung segala dosa manusia dan pada akhirnya tangan itu pula yang menghapus dosa manusia.

Peristiwa itu dihadirkan kembali dalam perayaan Ekaristi setiap kali imam merentangkan tangan dalam Doa Syukur Agung dan setiap kali imam membagikan Tubuh Tuhan umat menjawab dengan kata "Amin". Misteri Tubuh dan Darah Tuhan tetaplah menjadi rahasia besar Gereja, tidak mudah dipahami memang, tetapi penerimaan Tubuh dan Darah Tuhan dalam Ekaristi telah terbukti selama berabad-abad menjadi sumber kekuatan umat beriman.

Secara umum perayaan Ekaristi dibagi menjadi 4 bagian, yaitu Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi dan Ritus Penutup. Ritus pembuka bertujuan untuk mempersatukan umat dan mempersiapkan umat untuk menyadari kehadiran Allah, agar dapat mendengarkan sabda Allah dan dapat merayakan Ekaristi dengan pantas. Pewartaan dan pembacaan Sabda Allah merupakan unsur yang sangat penting dalam Liturgi Sabda. Umat wajib mendengarkan dengan penuh hormat. Bila Alkitab (Kitab Suci) dibacakan dalam gereja, Allah sendirilah yang bersabda kepada umat-Nya, dan Kristus mewartakan kabar baik, sebab Ia hadir dalam sabda itu. (Pedoman Umum Misale Romawi, 29). Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi merupakan dua bagian pokok dalam perayaan ekaristi (PUMR, 28), keduanya berhubungan erat. Dalam Liturgi Sabda dipaparkan karya keselamatan Allah yang disyukuri dalam Liturgi Ekaristi.

Tuhan Yesus mengajak kita supaya makan daging-Nya dan minum darah-Nya, artinya: menerima Dia yang telah mengorbankan diri-Nya di kayu salib. Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita merayakan Yesus yang telah mengorbankan diri-Nya demi keselamatan kita. Maka, oleh-Nya kita memperoleh rahmat Allah untuk hidup, hingga akhirnya boleh bertemu dengan-Nya.

Sekali lagi, menerima Yesus berarti menerima Dia menjadi bagian hidup kita. Yesus tidak pernah memberikan diri-Nya setengah-setengah. Tetapi seutuh-utuhnya, sepenuh-penuhnya. Maka hidup kita akan diubah oleh Yesus. Sesuai dengan janji Yesus sendiri, yang dinyatakan dengan menerima santapan rohani berupa Tubuh dan Darah-Nya: "Barangsiapa makan tubuh-Ku. Dan minum darah-Ku,dia tinggal di dalam Aku, dan Aku tinggal di dalam dia." (Yoh 6:56).

Renungkan lagu dalam PS.418 ini: ”Tuhan, tak layak aku, menyambut Tubuh-Mu, santapan mulia. Sepatah kata saja, sabdakan ya Tuhan, sembuhlah hamba-Mu. Semoga diriku, bersatu dengan-Mu, dan mampu mewartakan, karunia rahmat-Mu, karunia rahmat-Mu.”
Dalam doa yang dibaca dalam hati oleh imam (ada juga imam yang membaca sehingga terdengar umat) saat sebelum mengangkat Tubuh dan Darah Kristus sebelum komuni berbunyi sebagai berikut: ”Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang hidup, karena kehendak Bapa dan dalam kuasa Roh Kudus, Engkau telah menanggung kematian untuk menghidupkan dunia. Bebaskanlah aku dari segala kejahatan dan dosa berkat Tubuh dan Darah-Mu yang mahakudus ini. Semoga aku selalu setia pada perintah-perintah-Mu dan janganlah Engkau biarkan aku terpisah dari-Mu.”

Semoga setiap kali kita menerima Tubuh Kristus, kita semakin bersatu dengan Dia. Semakin sehati-sepikir dengan Dia yang menjadi sumber hidup kita. Mari kita instrospeksi diri kita, mari kita perbaharui pula sikap dan suasana hati kita sebelum kita menerima Tubuh Kristus agar kita sungguh layak dan pantas. Mari kita perlayak diri (hati dan lahiriah kita) sebelum sambut komuni karena yang kita sambut adalah Allah yang maha suci, yang maha agung dan penyelamat kita. Semoga dengan merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, kita semakin menyadari bahwa betapa besar Tuhan Yesus mencintai kita sampai sehabis-habisnya.


Diolah dari RUAH dan Tim Renungan Pagi

0 komentar:

Poskan Komentar


Mari budayakan berkomentar positif, setiap komentar yang bermuatan negatif, menyinggung SARA, spam, menggunakan bahasa kurang sopan, memicu pertikaian, atau tidak berhubungan dengan topik terkait tidak akan ditayangkan/dihapus.