Jumat, 22 April 2011 :: Jumat Agung

Jumat, 22 April 2011
Jumat Agung


Acuh tak acuhkah kamu sekalian yang berlalu? Pandanglah dan lihatlah, apakah ada kesedihan seperti kesedihan yang ditimpakan TUHAN kepadaku (Rat 1:12)


Doa Renungan

Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, segala ketidaktaaatan, segala dosa, dan pengingkaran terhadap nama-Mu, telah diambil alih menjadi beban tanggungan Putra-Mu, agar dapat membebaskan kami dari dosa Adam, serta menjadikan kami putera dan puteri-Mu. Kami bersyukur kepada-Mu atas jasa-Nya dan kami mohon, ajarilah kami meluhurkan dan menghormati-Mu, dan mengimani Engkau. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.


Kemuliaan kadang tersembunyi dalam penderitaan. Di balik kematian ada kehidupan yang lebih mulia. Penderitaan dan kematian orang yang diutus Allah akan membawa berkat keselamatan bagi banyak orang. Maka, Allah mengizinkan orang pilihan-Nya mengalami penderitaan.


Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Yesaya (52:13-53:12)


"Ia ditikam karena kedurhakaan kita."

Beginilah firman Tuhan, “Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil! Ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan! Seperti banyak orang tertegun melihat dia – rupanya begitu buruk, tidak seperti manusia lagi, dan tampaknya tidak seperti anak manusia lagi,-- demikianlah ia membuat tercengang banyak bangsa, dan raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia! Sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan yang tidak mereka dengar akan mereka pahami. Maka mereka berkata: Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan? Sebagai taruk Hamba Yahwe tumbuh di hadapan Tuhan, dan sebagai tunas ia muncul dari tanah kering. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan, dan biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia, dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Ia tidak tampan, dan semarak pun tidak ada padanya, sehingga kita tidak tertarik untuk memandang dia; dan rupanya pun tidak menarik, sehingga kita tidak terangsang untuk menginginkannya. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kitalah yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Sesungguhnya dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; derita yang mendatangkan keselamatan bagi kita, ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing mengambil jalan sendiri! Tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas, dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dank arena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan waktu mati ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan, dan tipu tidak ada di dalam mulutnya. Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan, dan apabila ia menyerahkan dirinya sebagai kurban silih, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak Tuhan akan terlaksana karena dia. Sesudah kesusahan jiwanya, ia akan melihat terang dan menjadi puas. Sebab Tuhan berfirman, Hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan. Ini semua sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dank arena ia terhitung di antara para pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang, dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.
Demikianlah sabda Tuhan.

U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = bes, 4/4, PS 820
Ref. Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu, Kupercayakan jiwaku.
Ayat. (Mzm 31: 2.6.12-13.15-16.17.25; R: Luk 23:46)
1. Pada-Mu ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku; sudilah membebaskan daku, Ya Tuhan Allah yang setia.
2. Di hadapan semua lawanku aku bercela, tetangga-tetanggaku merasa jijik. Para kenalanku merasa nyeri; mereka yang melihat aku cepat-cepat menyingkir, Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati. Telah menjadi seperti barang yang pecah.
3. Tetapi aku, kepada-Mu, ya Tuhan, aku percaya, Aku berkata, "Engkaulah Allahku!". Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari musuh-musuhku dan bebaskan dari orang-orang yang mengejarku!
4. Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap hatimu.

Kisah sengsara dan kematian Yesus dalam Injil ini mau mengungkapkan kasih Allah yang begitu besar. Salib yang menjadi tanda kebencian justru diubah oleh Yesus menjadi tanda kasih. Berkat salib, kematian diubah menjadi kehidupan yang lebih mulia.

Bacaan Kedua
Pembacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (4:14-16; 5:7-9)


"Yesus tetap taat dan menjadi sumber keselamatan abadi bagi semua orang yang patuh kepada-Nya."

Saudara-saudara, kita sekarang mempunyai Imam Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah. Maka baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Agung yang kita punya, bukanlah imam agung yang tidak dapat turut merasakan kelemahan kita! Sebaliknya Ia sama dengan kita! Ia telah dicobai, hanya saja tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita menghampiri takhta kerahiman Allah dengan penuh keberanian, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan pada waktunya. Dalam hidupnya sebagai manusia, Yesus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut; dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan. Akan tetapi sekalipun Anak, Ia telah belajar menjadi taat; ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya! Dan sesudah mencapai kesempurnaan, Ia menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = es, PS 966
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan Sang Raja kemuliaan kekal.
Ayat. (Flp 2:8-9)
Kristus taat untuk kita sampai wafat-Nya di salib. Dari sebab itulah Allah mengagungkan Dia. Nama yang paling luhur dianugerahkan kepada-Nya.

BACAAN INJIL
Y: Yesus ; S: Semua Rakyat ; Pi: Pilatus ; Pe: Petrus ; N: Naracerita ;W: Suara Wanita ; H: Hamba

P A S S I O

Inilah Kisah Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus menurut Yohanes (18:1-9:42)


MEREKA MENANGKAP YESUS DAN MEMBELENGGUNYA


N. Seusai perjamuan Paskah, keluarlah Yesus dari ruang perjamuan bersama dengan murid-murid-Nya, dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman. Yesus masuk ke taman itu bersama dengan murid-murid-Nya. Yudas, yang mengkhianati Yesus tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya. Maka datanglah juga Yudas ke situ bersama sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Mereka datang lengkap dengan lentera, suluh dan senjata. Yesus tahu semua yang akan menimpa diri-Nya. Maka Ia maju ke depan dan berkata kepada mereka,

Y. “Siapakah yang kamu cari?”

N. Jawab mereka,

S. “Yesus dari Nazaret.”

N. Kata Yesus kepada mereka,

Y. “Akulah Dia.”

N. Yudas yang mengkhianati Yesus berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Yesus berkata kepada mereka: “Akulah Dia”, mundurlah mereka, dan jatuh ke tanah. Maka Yesus bertanya pula,

Y. “Siapakah yang kamu cari?”

N. Jawab mereka,

S. “Yesus dari Nazaret”.

N. Jawab Yesus,

Y. “Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.”

N. Demikian terjadi supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya: “Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorang pun yang Kubiarkan hilang.” Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, dan menetakkannya kepada hamba Imam Agung dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus. Kata Yesus kepada Petrus,

Y. “Sarungkan pedangmu itu! Bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?”


YESUS DIBAWA DULU KE ISTANA HANAS


N. Maka para prajurit serta perwiranya, dan penjaga-penjaga yang disuruh orang Yahudi itu menangkap Yesus dan membelenggu Dia. Lalu mereka membawa Yesus mula-mula kepada Hanas, karena Hanas adalah mertua Kayafas, yang pada tahun itu menjadi Imam Agung; dan Kayafaslah yang telah menasihatkan kepada orang-orang Yahudi: “Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa.” Simon Petrus dan seorang murid lain mengikuti Yesus. Murid itu mengenal Imam Agung dan ia masuk ke halaman istana Imam Agung. Tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu. Maka murid lain tadi, yang mengenal Imam Agung, kembali ke luar, bercakap-cakap dengan perempuan penjaga pintu, lalu membawa Petrus masuk. Maka kata perempuan penjaga pintu itu kepada Petrus,

W. “Bukankah engkau juga murid orang itu?”

N. Jawab Petrus,

Pe. “Bukan!”

N. Sementara itu hamba-hamba dan para penjaga Bait Allah telah memasang api arang, sebab hawanya dingin waktu itu, dan mereka berdiri berdiang di situ. Petrus pun berdiri berdiang di situ. Petrus pun berdiri berdiang bersama-sama dengan mereka. Maka mulailah Imam Agung menanyai Yesus tentang para murid dan tentang ajaran-Nya. Jawab Yesus kepadanya,

Y. “Aku berbicara terus terang kepada dunia! Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi. Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan.”

N. Ketika Yesus berkata demikian, seorang penjaga yang berdiri di situ menampar muka Yesus sambil berkata,

H. “Begitukah jawab-Mu kepada Imam Agung?”

N. Jawab Yesus kepadanya,

Y. “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau benar, mengapa engkau menampar Aku?”


"BUKANKAH ENGKAU JUGA SEORANG MURID YESUS?" - "BUKAN!"


N. Lalu Hanas mengirim Yesus terbelenggu kepada Kayafas, Imam Agung. Simon Petrus masih berdiri berdiang. Kata orang-orang di situ kepadanya,

S. “Bukankah engkau juga seorang murid Yesus?”

N. Petrus menyangkalnya, katanya,

Pe. “Bukan!”

N. Salah seorang hamba Imam Agung, keluarga dari hamba yang telinganya dipotong Petrus, berkata kepadanya,

H. “Bukankah engkau kulihat di taman itu bersama-sama dengan Yesus?”

N. Maka Petrus menyangkal lagi dan ketika itu berkokoklah ayam.

HAI UMAT, APA SALAHKU (PS 507; 1-4)

1-4. Hai umat, apa salah-Ku kepadamu? Jawablah, kapan Aku menyusahkanmu.
1. Tlah Kubebaskan dirimu, dan kupatahkan belenggu.

Tetapi kini balasmu: Kau sudah menyerahkan-Ku.
2. Telah Kubimbing langkahmu dengan tuntunan awan-Ku.
Tetapi kini balasmu: Kauantar 'Ku ke Pilatus.
3. Dan Laut Merah Kubelah, supaya kamu lewatlah.
Tetapi kini balasmu: telah kautikam lambung-Ku.

4. Telah Kuhujankan manna di padang gurun yang gersang.
Tetapi kini balasmu: dera dan cambuk yang kejam

N. Keesokan harinya mereka membawa Yesus dari istana Kayafas ke gedung pengadilan. Ketika itu hari masih pagi. Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu, supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paskah. Sebab itu Pilatus keluar mendapatkan mereka dan berkata,

Pi. “Apakah tuduhanmu terhadap orang ini?”

N. Jawab mereka kepadanya,

S. “Jikalau Ia bukan penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!”

N. Kata Pilatus kepada mereka:

Pi. “Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu.”

N. Kata orang-orang Yahudi itu:

S. “Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang.”

N. Demikianlah terjadi supaya genaplah firman Yesus yang dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Ia akan mati. Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya,

Pi. “Engkau inikah raja orang Yahudi?”

N. Jawab Yesus,

Y. “Dari hatimu sendirikah engkau katakan hal itu? Ataukah adakah orang lain yang mengatakan kepadamu tentang Aku?”

N. Kata Pilatus,

Pi. “Orang Yahudikah aku? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala telah menyerahkan Engkau kepadaku, apakah yang telah Engkau perbuat?”

N. Jawab Yesus,

Y. “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini! Jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku sudah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi. Akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.”

N. Maka kata Pilatus kepada-Nya:

Pi. “Jadi Engkau adalah raja?”

N. Jawab Yesus,

Y. “Seperti yang kaukatakan, Aku adalah raja! Untuk itulah Aku lahir, dan untuk itulah Aku datang ke dunia ini, yakni untuk memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”

N. Kata Pilatus kepada-Nya:

Pi. “Apakah kebenaran itu?”

N. Sesudah mengatakan demikian, Pilatus keluar lagi mendapatkan orang-orang Yahudi, dan berkata kepada mereka,

Pi. “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya. Tetapi padamu ada kebiasaan, bahwa pada hari raya Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi ini bagimu?”

N. Mereka pun berteriak,

S. “Jangan Dia, melainkan Barabas!”

N. Barabas adalah seorang penyamun.


"SALAM, YA RAJA BANGSA YAHUDI"



N. Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia. Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri, dan menaruhnya di atas kepala Yesus. Mereka mengenakan jubah ungu pada-Nya, dan sambil maju ke depan mereka berkata,

S. “Salam, hai raja orang Yahudi!”

N. Lalu mereka menampar wajah Yesus. Pilatus keluar lagi dan berkata kepada orang-orang Yahudi,

Pi. “Lihatlah aku membawa Dia keluar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.”

N. Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka,

Pi. “Lihatlah manusia ini!”


HAI UMAT, APA SALAHKU (PS 507; 5-9)


5-9. Hai umat, apa salah-Ku kepadamu? Jawablah, kapan Aku menyusahkanmu.


5. Kupukul para musuhmmu, Kubuat tunduk padamu.
Tetapi kini balasmu: Kaupukuli kepala-Ku.
6. Kujunjung kat tak terperi, dan tongkat raja Kuberi.
Tetapi kini balasmu: mahkota duri yang ngeri.
7. Engkau lemah Kukuatkan, kau susah Aku hiburkan.

Tetapi kini balasmu: Kau sudah meninggalkan-Ku.
8. Kau salah Aku ampuni, kau jauh Aku hampiri.
Tetapi kini balasmu: Kau sudah mengingkari-Ku.
9. Kau mati Aku hidupkan, kau sakit Aku pulihkan.
Tetapi kini balasmu: Kau sudah menyalibkan-Ku.

N. Ketika para imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Yesus, berteriaklah mereka,

S. “Salibkan Dia, salibkan Dia!”

N. Kata Pilatus kepada mereka,

Pi. “Ambil saja sendiri dan salibkanlah Dia! Sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.”

N. Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya,

S. “Kami mempunyai hukum, dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah.”

N. Ketika Pilatus mendengar perkataan itu bertambah takutlah ia. Lalu ia masuk pula ke dalam gedung pengadilan, dan berkata kepada Yesus,

Pi. “dari manakah asal-Mu?”

N. Tetapi Yesus tidak memberi jawab kepadanya. Maka kata Pilatus,

Pi. “Tidakkah Engkau mau berbicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?”

N. Yesus menjawab,

Y. “Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan dari atas. Sebab itu, dia yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.”


"ENYAHKANLAH DIA! ENYAHKANLAH DIA! SALIBKAN DIA!"



N. Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Yesus, tetapi orang-orang Yahudi berteriak,

S. “Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap diri raja, melawan Kaisar.”

N. Ketika mendengar perkataan itu, Pilatus menyuruh Yesus ke luar. Lalu ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani: Gabata. Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam duabelas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu,

Pi. “Inilah rajamu!”

N. Maka berteriaklah mereka,

S. “Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!”

N. Kata Pilatus kepada mereka:

Pi. “Haruskah aku menyalibkan rajamu?”

N. Jawab imam-imam kepala,

S. “Kami tidak mempunyai raja, selain Kaisar!”

N. Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. Dan mereka menerima Yesus.

"YESUS DISALIBKAN BERSAMA DUA ORANG LAIN"


N. Sambil memikul salib-Nya, Yesus dibawa ke luar, ke tempat yang bernama Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota. Di situ Yesus disalibkan, dan bersama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah menyebelah, Yesus di tengah-tengah. Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: “Yesus Orang Nazaret, Raja orang Yahudi.” Banyak orang Yahudi membaca tulisan itu, sebab tempat Yesus disalibkan itu letaknya dekat kota, dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, Latin dan Yunani. Maka kata imam-imam kepala kepada Pilatus, “Jangan engkau menulis: “Raja orang Yahudi, tetapi: Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi.”

N. Jawab Pilatus,

Pi. “Apa yang kutulis, tetap tertulis.”


"MEREKA MEMBAGI-BAGI PAKAIANKU"



N. Setelah prajurit-prajurit menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian Yesus, lalu membaginya menjadi empat bagian, masing-masing prajurit satu bagian. Jubah Yesus pun mereka ambil. Tetapi jubah itu tidak berjahit, dari atas sampai ke bawah merupakan satu tenunan utuh. Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain, “Janganlah kita membagi jubah ini menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya.”

N. Demikianlah terjadi supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: “Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka, dan membuang undi atas jubah-Ku.” Hal itu telah dilakukan oleh prajurit-prajurit itu.


ITULAH ANAKMU - ITULAH IBUMU



N. Di dekat salib Yesus berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang Ia kasihi disampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya:

Y. “Ibu, inilah anakmu!”

N. Dan kemudian kata-Nya kepada murid itu, “

Y. Inilah ibumu!”

N. Dan sejak saat itu murid itu menerima Maria di dalam rumahnya.


"SELESAILAH SUDAH"



N. Sesudah itu, karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai berkatalah Ia – supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci, --

Y. “Aku haus!”

N. Di situ ada suatu buli-buli penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang pada sebatang hisop, mencelupkannya dalam anggur asam itu, lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. Sesudah meminum anggur asam itu, berkatalah Yesus,

Y. “Sudahlah selesai.”

N. Lalu Yesus menundukkan kepala dan menyerahkan nyawa-Nya.

………………..(Semua hening sejenak merenungkan wafat Tuhan)…………



"SEGERA DARAH DAN AIR MENGALIR KELUAR"



N. Karena hari itu adalah hari persiapan Paskah, dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib – sebab Sabat itu adalah hari yang besar – maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan, dan mayat-mayatnya diturunkan. Maka datanglah prajurit-prajurit, lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus. Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya. Tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung Yesus dengan tombak, dan segera mengalirlah darah serta air keluar. Dan orang yang melihat sendiri hal itu yang memberi kesaksian ini, dan benarlah kesaksiannya. Dan ia tahu bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya. Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan; dan nas lain yang mengatakan: Mereka akan memandang Dia yang telah mereka tikam.


'JENAZAH YESUS DIBUNGKUS DENGAN KAIN KAFAN DAN DIBUBUHI DENGAN WANGI-WANGIAN"



N. Sesudah itu Yusuf dari Arimatea (Yusuf ini adalah seorang murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi) meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan jenazah Yesus. Pilatus meluluskan permintaan Yusuf. Maka datanglah Yusuf dan menurunkan jenazah Yesus. Juga Nikodemus datang di situ. Dialah yang dulu datang malam-malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya. Mereka mengambil jenazah Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adapt pemakaman orang Yahudi. Di dekat tempat Yesus disalibkan itu ada suatu taman, dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. Karena hari itu hari persiapan Paskah orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka membaringkan jenazah Yesus di situ.
Demikianlah Kisah Sengsara Tuhan kita.
U. Terpujilah Kristus.

Renungan


Rekan-rekan yang budiman!
Barusan saya kembali membicarakan beberapa perkara tafsir dengan Oom Hans. Ia tak keberatan surat-menyurat kami diteruskan kepada para peminat lain. Ada pembicaraan tambahan sekitar kaitan antara Yoh 13:1 mengasihi "sampai pada kesudahannya" (eis telos) dengan Yoh 19:30 "sudah selesai" (tetelestai). Juga ada uraian tambahan tentang Yes 52:13-53:12 yang juga dibacakan pada liturgi Jumat Agung.
Salam,
A. Gianto
______________

Oom Hans yang baik!
Bagaimana kabarnya! Semoga Oom dan Oma Mir berbahagia di tempat. Ini nih, saya sedang menyiapkan komentar sana sini mengenai perkara yang Oom tulis dan yang kami bacakan pada hari Jumat Suci. Menurut Oom, Yesus berkata "Sudah selesai!" (Yoh 19:30). Kata seorang rekan di bumi sini, ini ungkapan rasa lega, penderitaan sudah lewat, rampunglah karya keselamatannya. Tapi saya kok malah kagak sreg dengan uraian seperti itu. Rasanya kok kayak tontonan, layar turun, tamat, selesai, kukut. Oom kan gunain ungkapan Yunani, "tetelestai", yang saya ngerti dari kata "telos", yaitu akhir yang merangkum perjalanan dari awal, yang memberi arti pada semua yang telah dijalani. Rasa-rasanya Yesus kan mau mengatakan sudah terlaksana sampai utuh. Kayak versi Latin yang cespleng "consummatum est" dua m itu. Ingat-ingat dulu ketika kami masih suka omong Latin, consummatum itu kan dari consummare, dus con + summa, "merangkum semua jadi utuh", dan bukan dari consumere satu m, "menghabiskan" (makanan/waktu/duit), yang ada hubungannya dengan konsumsi. Untuk consummare, cosummatum, yang bener orang Jakarta bilang "udah kecapai", kalau di Jawa ya "wis klakon". Oom gimana?

Ada lagi soal lain. Kalau betul, Oom mau menggarisbawahi gagasan bahwa Yesus itu kurban Paskah yang diterima Yang Di Atas sana sehingga benar-benar menjadi silih bagi dosanya umat manusia. Karena itu Oom memakai urut-uruatan kronologi peristiwa secara lain, yaitu penyaliban terjadi sebelum Paskah, berbeda dengan Mark cs. yang menaruh Paskah pada perjamuan malam terakhir. Iya kan? Saya sudah pernah katakan di sebuah milis bahwa perjamuan terakhir di mana Yesus membasuh kaki murid-murid itu bukan perjamuan Paskah, melainkan sebelumnya.

Pada awal perjamuan itu Oom sebutkan bahwa Yesus mengasihi orang-orangnya yang di dunia ini dan betul mengasihi "eis telos", sampai pada kesudahannya (Yoh 13:1). Ini sepertinya antisipasi atau padahan bagi kata-kata Yesus "tetelestai", sudah terlaksana, yang diucapkannya pada saat terakhir di salib? Jadi kedua ayat itu saling menjelaskan. Ia mengasihi orang-orangnya sampai terlaksana sesuatu yang mengubah arah hidup mereka, dan hidupnya sendiri, begitu kan? Tolong komentarin.
Salam hangat,
Gus

PS: Ada teman yang tanya mana nomer HP-nya Oom, mau nunut kirim SMS buat Oma Miryam seperti ini 2UBOK4ever, ;-) + :-)). Kawan-kawan itu sih sekarang genggamannya hp dan bukan lagi rosario.
______________

Dear Gus, Peace!
You're absolutely right. The truth is, when he uttered "tetelestai" (Yoh 19:30), Jesus was trying to say, "Here I am, I've done everything to the end, now take it all, Father!" The Indonesian version "Sudah selesai" - "It's over" - doesn't sound quite right, I agree. Why not try "Sudah terlaksana / terpenuhi" or something to that effect?

As I said, the word "tetelestai" was spoken by Jesus to his Father. But we overheard it. It teaches much about him, about God, about what love means, the thing he dwelt on during that supper - at first I thought he was just being odd. But then this "consummatum est" is the key to all that. The penny drops!

Glad to hear you see the connection between sudah terlaksana/"tetelestai" here and "eis telos" said about his act during the last supper (Yoh 13:1). Yes, on that background, his death on the cross gives a fuller sense to what "loving one's own who are in the world (=still under the threat of darkness, evil power)" means. He accompanies them, and us, in our darkest moment. We can be sure now that we won't be abandoned by the one sent by the Father to bring us back to Him, the Source of Light.

As for your second question, quite, Jesus is the true Paschal lamb. Not that the Almighty likes blood gushing out of this man, by no means! The point is, his blood acts like the lamb's blood in Exodus 12:13. So when Jesus died on the cross in that sense, the Almighty took him and cast out darkness for good. That's the light of His Word. Did you get it? You're the exegete.

By the way, don't try to reconcile my chronology of the passion with Mark's story and all that jazz. The washing of the feet, about which those three young men know nothing, is the preface to the true Passover meal, the sacrifice of the Lamb of God on the cross, not to the last supper. Jesus shares his origin and destiny so that we can become sons and daughters of the Almighty. I read your note on the washing of the feet; I sort of like the idea of taking part in Jesus' "sangkan paran". See, I am no stranger to your cultural heritage.

Ma Miryam is fine. She was amused by the SMS - a young seraph taught her to read the emoticons. And she dictated her reply: Thanx >, ;-*. But let's not talk gibberish. I don't use a cell phone. She does. But she prefers to keep her number unlisted.

Best,
Hans
______________

Oom Hans yang baik!

Terima kasih banyak. Mau tanya lagi. Ini kelanjutan dari yang di atas. Ketika lembing ditusukkan, yang keluar dari lambung Yesus ialah darah dan air (Yoh 19:34). Apa sih maksud Oom? Mark dkk. tidak tahu perkara itu. Kemarin saya tanya Luc, dia bilang ah, Oom Hans aneh-aneh saja, paranormal sih.
Tolong sampaikan salam buat Oma Miryam begini :-* 4U.
As ever,
Gus
______________

Dear Gus,
Like our ancestors, we imagine blood as the seat of life and water as the force that sustains life. With Jesus' death on the cross, there came forth life and life-sustaining force - that's what I was trying to say. I'm no physician like Luc, but I saw more. Didn't I write somewhere in my chapter 19 that I witnessed all this. I still want to share this truth with all of you.
Ugh, it's two am, :-o B4N
Hans
_____________

POSTSCIPTUM:

Masih ada beberapa soal yang kami bicarakan di beberapa kesempatan lain. Ini ringkasannya. Saya beritahukan kepadanya bahwa dalam liturgi Jumat Agung dibacakan juga Kidung Hamba Tuhan Yes 52:13-53:12. Ada satu hal yang mengusik di situ. Sang hamba itu mengalami penderitaan, dihina, dianggap sama kayak penjahat justru agar mereka yang memperlakukannya dengan kekerasan ini selamat. Tuh disebut dalam 53:4-7 bahwa sang hamba menanggung penyakit kemanusiaan, ia diremukkan karena kejahatan umat manusia, dan ia diam seribu bahasa dan terus menjalaninya. Lebih aneh lagi dikatakan, coba lihat sendiri, hamba itu "dipukul dan ditindas Allah" (53:4) dan "Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan" (53:10). Aneh kan? Saya tanyakan apa boleh kita pahami bahwa sang hamba itu "tumbal" bagi kedosaan manusia, kambing hitamnya kebobrokan manusia? Untuk membereskan kemanusiaan Yang Maha Kuasa menimpakan hukuman yang semestinya jatuh kepada orang banyak kepada satu orang ini, hamba Tuhan itu? Menarik, tapi apa beres penalaran ini?

Jawaban Oom Hans menarik. Menurutnya boleh saja pakai teori kambing hitam, malah ia tahu ada pelbagai teori yang mirip-mirip yang sudah pernah dipakai: teori silih, denda, ganti rugi, melunasi hutang. Tetapi apa akan sampai ke pokok yang mau disampaikan Kidung itu sendiri? Begitu tantang Oom Hans. Menurut beliau, bila diamat-amati, yang hendak disampaikan dalam kidung tadi ialah peran sang hamba mendamaikan kembali manusia dengan Yang Ilahi. Malah bisa dikatakan lebih tajam lagi, sang hamba mengajak kemanusiaan mengenali kembali jejak-jejak Yang Ilahi dalam diri sang hamba yang semakin sulit dikenal karena manusia semakin kehilangan kepekaan ke sana. Yang dilakukan hamba itu ialah menunjukkan bahwa keburukan serta kekerasan manusia itu ialah kenyataan yang tidak bisa didiamkan. Oom Hans menyarankan agar teks kidung tadi dibaca dengan empati, sampai bisa rada ikut berpikir dan merasa seperti penyairnya yang lambat laun menyadari bahwa kebobrokan dalam diri kemanusiaan - yakni penderitaan sang hamba - sebenarnya ialah penderitaan masing-masing kita, hanya kita telah terlalu mengemohi dan melupakannya dan ingin melimpahkan ke pihak lain, mengkambinghitamkannya. Lebih ironi lagi, orang malah menganggap bahwa Yang Maha Kuasa juga berlaku begitu: melimpahkan hukuman yang mestinya dijatuhkan ke umat manusia semuanya hanya kepada hambanya yang setia ini. Ayat 4 dan 10 itu sebaiknya dibaca sebagai pernyataan ironi sehingga orang bisa berpikir, bukan diambilalih sebagai dasar penegasan teologis mengenai kelakuan Yang Ilahi menuntut tumbal. Oom Hans menyarankan agar kidung itu dan tentunya kisah sengsara Yesus hendaknya didalami sebagai penjernihan batin guna mengenali keadaan manusia yang tidak menyadarinya penderitaan yang hakiki: sisi kemanusiaan yang gagal menampilkan kehadiran ilahi, dan hanya kekerasan yang entah dari mana muncul. Sang hamba dalam kidung itu menggugah orang untuk mulai sadar akan ketimpangan ini. Juga penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib hendaknya membuat orang berpikir kembali mengenai kemanusiaan sendiri. Bila ini tafsir ini diteruskan, kita memang tidak perlu memakai gagasan tumbal atau kambing hitam dan teori-teori lain yang sifatnya statis, hanya potret kaku dua dimensi. Yang disarankan Oom Hans ialah melatih kepekaan batin mengenali jejak-jejak ilahi dalam kemanusiaan sendiri sejelek, sehina apapun. Dan jejak-jejak-Nya akan makin terang dan membawa kedekat-Nya sendiri.

Salam dari Roma,
A. Gianto


0 komentar:

Poskan Komentar


Mari budayakan berkomentar positif, setiap komentar yang bermuatan negatif, menyinggung SARA, spam, menggunakan bahasa kurang sopan, memicu pertikaian, atau tidak berhubungan dengan topik terkait tidak akan ditayangkan/dihapus.