Pertemuan I Bulan Kitab Suci: Keuskupan Agung Semarang: Kebersamaan Meneguhkan Iman

Pertemuan I

KEBERSAMAAN MENEGUHKAN IMAN

Pengantar

Saudara-saudari terkasih, dunia dewasa ini penuh dengan tawaran dan tantangan yang tidak selalu sejalan dengan iman. Pada saat dibaptis, kita telah berjanji untuk setia pada iman dan menjadi manusia baru yang berani menolak segala hal yang jahat. Dengan iman yang teguh kita diharapkan senantiasa mengarahkan diri pada kehidupan kekal.

Oleh karena itu, iman mesti dikembangkan, baik secara pribadi maupun dalam kebersamaan. Iman kita semakin diperteguh di dalam kebersamaan. Contohnya, dalam hidup bersama di lingkungan, biasanya umat yang jarang berkumpul mudah sekali larut dalam godaan duniawi. Contoh lain, dalam hidup doa, bila tidak diwaspadai, Allah menjadi semacam 'berhala' yang diharuskan memberikan segala permintaan manusia. Apalagi, jika permohonan itu disertai dengan 'ritual' doa tertentu, atau semacam mengucapkan 'mantra' doa tertentu.

Pertanyaan besar muncul di sana, "Siapakah Allah itu bagiku?" serta "Siapakah aku ini bagi Allah?" Dua pertanyaan tersebut berkaitan erat dengan pemahaman kita mengenai iman dan bagaimana kita menghayati iman.

Pada kesempatan ini, kita akan belajar dari Kitab Makabe, mengenai teladan orang beriman yang berpegang teguh pada iman dan sungguh memperjuangkan apa yang diimaninya. Dalam pertemuan ini, akan kita renungkan awal dari perjuangan Matatias beserta anak-anaknya untuk melawan raja Antiokhus Epifanes yang dengan sewenang-wenang telah menghina agama mereka dan memaksa agar mereka murtad.

Penyajian materi

a. Pembacaan Teks Kitab Suci (1 Makabe 2:1-22.27-31)


1.Pada waktu itu Matatias bin Yohanes bin Simeon, seorang imam dari keluarga Yoarib, berangkat dari Yerusalem dan menetap di kota Modein. 2.Matatias mempunyai lima anak, yaitu: Yohanes dengan sebutan Gadi, 3.Simon dengan sebutan Tasi, 4.Yudas dengan sebutan Makabe, 5.Eleazar dengan sebutan Avaran dan Yonatan dengan sebutan Apfus. 6.Melihat semua kekejian yang terjadi di Yerusalem dan Yehuda 7.maka berkatalah Matatias: "Celakalah aku ini! Apakah aku dilahirkan untuk menyaksikan keruntuhan bangsaku dan Kota Suci dan berdiam saja di sini sementara kota itu sudah diserahkan kepada musuh dan Bait Suci sudah di tangan orang-orang asing? 8.Bait Allahnya sudah menjadi seperti orang yang terhina. 9.Perkakasnya yang mulia sudah diangkut sebagai jarahan. Anak-anaknya dan kaum mudanya sudah dibunuh di lapangan-lapangannya oleh pedang musuh! 10.Bangsa manakah belum mengusirnya dari warisan kerajaan dan belum merampasinya? 11.Segenap perhiasannya sudah diambil. Dari pada merdeka mereka sekarang sudah menjadi sahaya belaka! 12.Lihatlah, apa yang kudus bagi kita, segenap keindahan dan kemuliaan kita sudah dipunahkan serta dicemarkan oleh orang asing. 13.Apa gunanya hidup bagi kita lagi?" 14.Lalu Matatias serta anak-anaknya menyobek pakaian mereka dan mengenakan kain karung dan sangat berkabung. 15.Kemudian para pegawai raja yang bertugas memaksa orang-orang Yahudi murtad datang ke kota Modein untuk menuntut pengorbanan. 16.Banyak orang Israel datang kepada mereka. Adapun Matatias serta anak-anaknya berhimpun pula. 17.Pegawai raja itu angkat bicara dan berkata kepada Matatias: "Saudara adalah seorang pemimpin, orang terhormat dan pembesar di kota ini dan lagi didukung oleh anak-anak serta kaum kerabat saudara. 18.Baiklah saudara sekarang juga maju ke depan sebagai orang pertama untuk memenuhi penetapan raja, sebagaimana telah dilakukan semua bangsa, bahkan orang-orang Yehuda dan mereka yang masih tertinggal di Yerusalem. Kalau demikian, niscaya saudara serta anak-anak saudara termasuk ke dalam kalangan sahabat-sahabat raja dan akan dihormati dengan perak, emas dan banyak hadiah!" 19.Tetapi Matatias menjawab dengan suara lantang: "Kalau pun segala bangsa di lingkungan wilayah raja mematuhi seri baginda dan masing-masing murtad dari ibadah nenek moyangnya serta menyesuaikan diri dengan perintah-perintah seri baginda, 20.namun aku serta anak-anak dan kaum kerabatku terus hendak hidup menurut perjanjian nenek moyang kami. 21.Semoga Tuhan mencegah bahwa kami meninggalkan hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan. 22.Titah raja itu tidak dapat kami taati dan kami tidak dapat menyimpang dari ibadah kami baik ke kanan maupun ke kiri!"
2:27 Lalu berteriaklah Matatias dengan suara lantang di kota Modein: "Siapa saja yang rindu memegang hukum Taurat dan berpaut pada perjanjian hendaknya ia mengikuti aku!" 28.Kemudian Matatias serta anak-anaknya melarikan diri ke pegunungan. Segala harta miliknya di kota ditinggalkannya. 29.Kemudian turunlah ke padang gurun banyak orang yang mencari kebenaran dan keadilan. 30.Mereka sendiri serta anak-anak, isteri-isteri dan ternaknya menetap di sana. Sebab mereka dianiaya oleh yang jahat. 31.Dalam pada itu telah diberitakan kepada para petugas raja dan kepada pasukan yang berada di Yerusalem, di Kota Daud, bahwa orang-orang yang mempermudah perintah raja telah turun ke persembunyian di gurun.

b. Pendalaman Teks

1. Sebelum melakukan penafsiran teks kita perlu memperhatikan struktur dan dinamikanya. Kisah awal dari perjuangan keluarga Matatias ini (1 Makabe 2:1-22.27-31) dapat dibagi menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama memaparkan adanya keprihatinan atas situasi dan kondisi yang terjadi (ayat 1-12), membangun tekad untuk mengatasi keprihatinan (ayat 14-21), melakukan tindakan yang nyata (ayat 27-31).

2. Keprihatinan atas situasi dan kondisi yang terjadi (ayat 1-12):
Bangsa Israel pada zaman penjajahan raja Antiokhus IV Epifanes mengalami penindasan dan hambatan dalam hidup beragama. Hambatan terhadap kehidupan beragama dimulai dengan pencemaran terhadap kota Yerusalem beserta Bait Suci. Banyak orang terbunuh demi iman di kota Yerusalem. Kota kudus bagi umat Yahudi itu telah dihancurkan dan dijadikan kota kafir yang penuh dengan patung dewa-dewi bangsa Yunani. Yang paling menyedihkan bagi Matatias adalah pencemaran terhadap Bait Suci yang berada di pusat kota Yerusalem dan pada waktu itu menjadi tempat terkudus bagi bangsa Yahudi. Peralatan ibadat di Bait Suci yang terdiri dari emas serta logam berharga telah dijarah. Tempat kudus itu dijadikan kuil dewa-dewi. Kita dapat membayangkan kepedihan hati Matatias dan anak-anaknya yang begitu peduli pada kekudusan Allah dan kesalehan umat beriman. Saat itu, tidak ada lagi tempat mereka beribadat dan bertemu bersama di hadapan Allah. Bangunan yang mereka hormati sebagai tempat kediaman Allah telah menjadi panggung penyembahan berhala. Korban-korban bakaran yang dipersembahkan untuk memuliakan Allah telah digantikan dengan korban bakaran bagi dewa-dewi asing. Dengan hati sedih Matatias meratap: "Lihatlah, apa yang kudus bagi kita, segenap keindahan dan kemuliaan kita sudah dipunahkan serta dicemarkan oleh orang asing. Apa gunanya hidup bagi kita lagi?" (ayat 12-13)

3. Tekad untuk mengatasi keprihatinan (ayat 14-21):
Apa reaksi Matatias dan anak-anaknya terhadap penindasan hidup beragama dan pencemaran simbol-simbol iman itu? Mereka sadar bahwa harga diri mereka sebagai bangsa yang berdaulat dan beriman kepada Allah telah diinjak-injak bangsa asing. Matatias dan anak-anaknya menyobek pakaian mereka dan mengenakan pakaian kabung. Menyobek pakaian adalah tanda dari kesedihan yang mendalam. Mengenakan kain kabung (dari karung) merupakan laku prihatin, tanda pertobatan dan perendahan diri di hadapan Allah untuk memohon pertolongan-Nya. Matatias sebagai orang beriman yakin bahwa apa yang terjadi pada mereka merupakan sebuah peringatan dari Allah karena dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Untuk itulah mereka perlu bertobat dan mohon pengampunan Allah. Salah satu tindak lanjut dari pertobatan adalah bertekun dalam iman dan membela iman dengan jiwa raganya. Di hadapan utusan raja yang membujuknya agar menaati perintah raja untuk mengingkari imannya, Matatias berkata: "Semoga Tuhan mencegah bahwa kami meninggalkan hukum Tuhan serta peraturan-peraturan Tuhan" (ayat 21). Dengan gagah berani dia menolak perintah raja dan bersama anak-anaknya bertekad untuk tetap setia pada hukum Tuhan, warisan iman nenek moyangnya. Keluhan dan ratapan saja tidak cukup. Matatias dan anak-anaknya berniat untuk mengatasi keprihatinan bangsanya dengan berbuat sesuatu yang nyata.

4. Tindakan nyata untuk setia pada Taurat dan membela iman pada Tuhan (ayat 27-31):
Matatias kemudian menyerukan gerakan perlawanan terhadap raja dan para pasukannya dengan cara gerilya. Bagi Matatias, perlawanan dengan cara mengangkat senjata merupakan wujud nyata dari kesetiaan mereka pada hukum Taurat dan perjanjian yang telah dilakukan Tuhan dengan nenek moyang mereka. Mengapa Matatias memakai kekerasan untuk melawan kekerasan? Untuk zaman itu, sikap dan tindakan Matatias dapat dipahami karena Antiokhus IV Epifanes bukan hanya menghambat hidup beragama tetapi juga melakukan penjajahan yang kejam. Matatias tahu bahwa di antara kaum sebangsanya ada yang memilih mati sebagai martir demi iman mereka. Namun dia tidak mau mati dengan cara pasif semacam itu. Dia bersedia mati demi iman tetapi lewat perang. Mati demi iman dengan senjata di tangan adalah pilihan hidupnya. Meskipun begitu dia tetap menghargai orang-orang sebangsanya yang bersedia mati tanpa perlawanan fisik. Dalam 1Mak 2:32-39 dikisahkan tentang orang-orang Yahudi yang diserang oleh pasukan raja Antiokhus pada hari Sabat. Mereka tidak melakukan perlawanan sama sekali karena pada hari Sabat orang Yahudi dilarang untuk melakukan pekerjaan. Kira-kira ada seribu orang mati dibunuh tanpa perlawanan karena mereka bertekad untuk setia pada hari Sabat. Sadar bahwa cara itu akan dapat memunahkan pasukannya, Matatias mengambil keputusan untuk tetap melakukan perlawanan jika mereka diserang pada hari Sabat. Mengenai hal ini dapat kita baca 1Mak 2:40-41.

Dengan keputusan itu, Matatias berjuang keras untuk mengusir penjajah dan mengembalikan kejayaan bangsanya sebagai bangsa berdaulat serta beriman pada Tuhan. Mengajak anak-anaknya dan semua orang yang bersedia berjuang dengannya, Matatias melarikan diri ke padang gurun. Di sana ia mulai menyusun kekuatan untuk melawan penjajah bangsanya dengan perang gerilya. Dalam kisah-kisah selanjutnya, perjuangan Matatias yang dilanjutkan oleh anak-anaknya itu, terutama di bawah pimpinan Yudas Makabe, berhasil mengusir penjajah dan mengembalikan kedaulatan serta kekudusan Allah di tengah bangsanya. Di bawah pemerintahan keturunan Matatias (nantinya dikenal sebagai Hasmone) bangsa Yahudi mengalami kemerdekaan selama hampir 100 tahun. Pada tahun 63 sebelum Masehi Pompeius menguasai Palestina, dan bangsa Yahudi kembali jatuh di bawah penjajahan bangsa asing. Kali ini penjajahnya adalah bangsa Romawi, sebuah bangsa yang mulai tumbuh sebagai negara adidaya. Kejayaan penerus Aleksander Agung mulai surut dan peran mereka kini digantikan oleh bangsa Romawi.

5. Dalam perjuangan Matatias dan keluarganya, iman menjadi harta yang tak ternilai harganya. Mereka rela membela harta itu dengan apa yang mereka miliki. Dalam diri Matatias dan keluarganya, kita dapat melihat bagaimana kecintaan akan Allah memang sungguh kuat. Ayat 20 menegaskan hal ini, bahwa Matatias dan keluarganya berjanji untuk hidup sesuai dengan 'perjanjian nenek moyang kami', yaitu taat kepada hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan. Demi perjuangan mempertahankan iman dan tradisi bangsanya, keluarga ini bahkan rela untuk pergi meninggalkan segala harta yang mereka miliki. "Semoga Tuhan mencegah bahwa kami meninggalkan hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan," demikian doa Matatias.

c. Sharing

1. Hal-hal apa sajakah yang menjadi keprihatinan iman di zaman ini? Hambatan untuk praktek hidup beragama memang kita rasakan. Namun, keprihatinan iman jauh lebih luas dari itu. Konsumerisme (orientasi pada membeli dan memakai apa yang tersedia), materialisme (orientasi pada materi), hedonisme (orientasi pada kenikmatan duniawi), dan sebagainya dapat menjadi ancaman bagi iman. Kita sharingkan bersama, tantangan-tantangan iman apa sajakah yang menjadi keprihatinan kita di zaman ini?

2. Bagaimanakah kita sendiri menghadapi tantangan-tantangan seperti itu?

3. Bagaimana kita bersama-sama bisa menjaga iman kita dari serbuan nilai atau semangat hidup yang merongrong nilai iman dan kasih itu?

4. Marilah kita mencermati kehidupan komunitas lingkungan kita. Apakah selama ini kita sudah menghargai kebersamaan yang kita miliki dalam iman untuk saling mengembangkan, atau malah kita menjadi pribadi yang tidak mau peduli satu dengan yang lain, hanya mementingkan urusan pribadi semata? Apa yang bisa kita buat dengan pengalaman-pengalaman itu bagi perkembangan iman dalam komunitas kita?

5. Apa yang perlu dan harus kita buat bersama, bila komunitas kita juga mengalami permasalahan bersama seperti komunitas Matatias? Bagaimanakah kita bisa mempertahankan iman di tengah himpitan zaman kini? Situasi dan kondisi kita tidak memerlukan perjuangan membela iman dengan cara perang seperti di zaman Makabe. Apakah ada cara lain yang lebih sesuai dengan zaman kita sekarang untuk membela dan mempertahankan iman?


Kesimpulan

1. Matatias dan anak-anaknya serta umat Yahudi di zamannya menghadapi tantangan berat dalam hal iman. Kita juga mempunyai berbagai macam keprihatinan yang menantang keteguhan iman kita. Keprihatinan bisa jadi muncul dari kelemahan pribadi kita, dari keadaan sekitar kita, atau dari orang lain.

2. Apa yang dilakukan oleh Matatias dan kawan-kawannya merupakan salah satu pilihan dari banyak kemungkinan untuk melawan kejahatan raja Antiokhus Epifanes yang telah sewenang-wenang dan bengis melakukan penghambatan pada agama Yahudi. Sesuai dengan situasi dan kondisi waktu itu, perang gerilya merupakan cara yang dianggapnya paling efektif. Raja telah memusuhi bangsanya dengan penindasan. Raja juga telah memusuhi Allah dengan pencemaran terhadap Bait Suci. Kiranya, Matatias merasa bersalah jika tidak berbuat apa-apa, melihat tindakan raja yang sewenang-wenang itu. Perjuangan bersenjata menjadi jalan yang jelas baginya.

3.Bagi kita, mungkin cara yang ditempuh oleh Matatias terlalu keras. Untuk itu, yang perlu kita perhatikan lebih-lebih semangat imannya yang begitu tinggi, sampai rela mengurbankan diri untuk membela bangsa dan agamanya.

4.Kita tidak berharap untuk mengalami kesulitan dalam menjalankan agama sampai harus terjadi pertumpahan darah. Pertentangan atau bahkan permusuhan yang terjadi atas dasar agama sebenarnya telah mengingkari tujuan dari agama itu sendiri. Kisah Makabe bukan mengenai pertntangan antar agama, tetapi mengenai keberanian dalam membela agama. Tanpa harus melalui tindakan ekstrim pertumpahan darah, sebenarnya pada kita pun dituntut keteguhan iman yang sama. Tantangan bagi kita dalam beriman masih ada sampai sekarang. Arus zaman yang tidak sesuai dengan nilai iamn kita (misalnya: konsumerisme, materialisme, hedonisme, ateisme) juga merupakan tantangan yang tidak mudah diatasi.

5. Kita telah membicarakan bersama bagaimana kita juga bisa menjaga iman yang kita cintai bersama. Semoga, segala sesuatu yang kita daptkan menjadi titik awal yang bisa kita kembangkan dalam kehidupan beriman kita.

6. Salah satu kekuatan yang kita miliki adalah komunitas orang-orang beriman itu sendiri. Matatias dan keluarganya menggunakan kekuatan kelompok mereka dengan bahu-membahu memerangi Antiokhus Epifanes. Gereja sendiri adalah komunitas orang yang beriman pada Allah Tritunggal. Secara nyata, kebersamaan tersebut kita temukan dalam Ekaristi dan berbagai pertemuan dengan saudara-saudara seiman.

Diambil dari buku:
BKS 2009 -- KOMISI KITAB SUCI KAS