Seri Katekismus: PRIA & WANITA & FIRDAUS

Seri Katekismus
PRIA & WANITA & FIRDAUS

Syalom aleikhem.
Manusia diciptakan menurut dua jenis kelamin, yaitu pria dan wanita. Keduanya bermartabat sama, keduanya bersama-sama merupakan citra Allah. Kepriaan dan kewanitaan itu baik dan dikehendaki oleh Allah.

Manusia memang citra Allah, namun Allah bukan citra manusia. Allah bukan pria, juga bukan wanita. Allah adalah roh murni. Allah tak berjenis kelamin. Kendati tak berjenis kelamin, Allah memancarkan segala kesempurnaan kepriaan dan kewanitaan. Allah memiliki sekaligus sifat-sifat keduanya. Allah bagaikan ibu sekaligus seperti ayah. Alkitab banyak menggambarkan kedua sifat itu dalam diri Allah.

Allah menciptakan pria dan wanita secara bersama. Keduanya diciptakan dengan maksud “yang satu untuk yang lain”. Alkitab menggambarkan pria menjumpai wanita sebagai “aku yang lain”, sebagai sesama manusia.

Diciptakan “yang satu untuk yang lain” bukan berarti pria dan wanita tak lengkap sebagai manusia, bukan berarti mereka setengah manusia. Manusia, entah pria atau wanita, itu sempurna sebagai pribadi, namun sekaligus saling melengkapi dalam kepriaan dan kewanitaan. Dalam perkawinan, hal saling melengkapi itu jelas sekali. Allah mempersatukan mereka dan dengan itu mereka meneruskan kehidupan manusia. Pria dan wanita, dengan demikian, bekerja sama secara khas dengan Sang Pencipta untuk meneruskan kehidupan.

Secara bersama, pria dan wanita sebagai manusia dipanggil untuk “menaklukkan” dunia. Ini bukan dalam arti merusak dengan lalim, melainkan menjaga dan melindungi ciptaan lain sebagaimana Allah menjaga dan melindungi semua ciptaan.

Pada masa penciptaan, manusia berada di Taman Firdaus. Semuanya selaras dengan kehendak Allah. Manusia selaras dengan Sang Pencipta, dengan dirinya sendiri, dan dengan ciptaan lain di sekitarnya. Keadaan itu disebut “ambil bagian dalam kehidupan ilahi” yang membuat manusia tak perlu mati atau sengsara. Tak ada penderitaan dan maut di sana sebab semua serba selaras. Keadaan serba selaras di Firdaus itu disebut dengan istilah “keadilan purba”. Amin.

** Ringkasan atas Katekismus Gereja Katolik (KGK) No. 369 – 376

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring