Seri Katekismus: JIWA RAGA MANUSIA

Seri Katekismus
JIWA RAGA MANUSIA

Syalom aleikhem.
Manusia punya tempat khusus dalam dunia ciptaan karena manusia diciptakan menurut citra Allah. Dalam kodrat manusia, bersatulah dunia rohani dan dunia jasmani. Manusia itu makhluk rohani sekaligus makhluk jasmani. Manusia punya roh – seperti malaikat yang makhluk rohani – sekaligus manusia punya badan – sebagaimana hewan yang makhluk jasmani.

Hanya manusia yang dapat menjadi “sahabat Allah” karena begitu istimewanya. Mengapa? Sebab, dari semua ciptaan yang kelihatan, hanya manusia yang mampu mengenal dan mencintai Sang Pencipta. Hewan, tumbuhan, benda mati tak mengenal siapa pencipta mereka. Tapi manusia mengenal-Nya.

Segala sesuatu diciptakan demi manusia. Tapi, manusia diciptakan untuk melayani Allah, mencintai Allah, dan mempersembahkan seluruh ciptaan kepada Allah.

Pribadi manusia yang diciptakan menurut citra Allah adalah wujud jasmani sekaligus rohani. Alkitab memakai gambaran untuk menjelaskan hal itu, yaitu manusia diciptakan dari debu tanah yang ditiup dengan nafas ilahi. Dengan itu mau dikatakan bahwa manusia sekaligus punya jiwa dan badan.

Dalam Alkitab, istilah jiwa sering berarti “kehidupan manusia” atau “seluruh pribadi manusia”, “unsur terdalam pada manusia”, juga “prinsip hidup rohani dalam manusia”. Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik (nama kondangnya: “Gereja Katolik”) mengajarkan bahwa setiap jiwa rohani langsung diciptakan oleh Allah. Jiwa tak dihasilkan oleh orangtua seperti gen, misalnya. Jiwa tak bergantung pada gen orangtua atau keadaan fisik orangtua, melainkan langsung dari Allah.

Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa jiwa tak dapat mati. Jiwa tak binasa. Bagaimana keadaan jiwa saat kematian manusia? Pada saat kematian, jiwa berpisah dari badan. Lalu, badan fisik akan hancur karena proses alamiah. Kalau demikian, bagaimana nanti saat kebangkitan badan? Jiwa akan bersatu lagi dengan “badan baru” pada hari kebangkitan.

Kadang kala jiwa dibedakan dengan roh (lih. 1Tes. 5:23). Gereja Katolik mengajarkan bahwa perbedaan ini tak membagi jiwa menjadi dua. Bukan berarti ada dua hal, yaitu jiwa dan roh. Istilah “roh” berarti bahwa manusia sejak penciptaannya diarahkan kepada tujuan adikodrati, tujuan rohani, bukan hanya tujuan jasmani. Itu berarti jiwanya dapat diangkat ke dalam persekutuan dengan Allah. Amin.

** Ringkasan atas KGK No. 355 – 368

RD. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring