Jumat, 02 Juni 2017 Hari Biasa Pekan VII Paskah

Jumat, 02 Juni 2017
Hari Biasa Pekan VII Paskah (Jumat Pertama; Novena Roh Kudus hari kedelapan)

Yesus mempercayakan kepada Petrus wewenang yang khusus: "Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan surga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga" (Mat 16:19). "Kuasa kunci-kunci" berarti wewenang untuk memimpin rumah Allah, ialah Gereja. Yesus "gembala yang baik" (Yoh 10:11), menegaskan tugas ini sesudah kebangkitan-Nya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku" (Yoh 21:15-17). Wewenang untuk "mengikat" dan "melepaskan" menyatakan wewenang di dalam Gereja untuk membebaskan dari dosa, mengambil keputusan menyangkut ajaran dan memberikan keputusan-keputusan disipliner. Kristus mempercayakan otoritas ini kepada Gereja melalui pelayanan para Rasul Bdk. Mat 18:18. dan terutama melalui Petrus, kepada siapa Ia secara khusus menyerahkan kunci-kunci Kerajaan-Nya. (Katekismus Gereja Katolik, 553)

    
DOA NOVENA ROH KUDUS LIHAT DI PUJI SYUKUR MULAI NOMOR. 90
  
Antifon Pembuka (lih. Why 1:5-6)

Kristus menaruh cinta kasih kepada kita, dan menguduskan kita dengan darah-Nya. Ia menjadikan kita raja dan imam di hadapan Allah Bapa-Nya. Alleluya.

Christ loved us and washed us clean of our sins by his Blood, and made us into a kingdom, priests for his God and Father, alleluia.

Doa Pembuka

Allah Bapa Sumber Cahaya Kekal, Engkau telah membukakan kami jalan menuju hidup yang kekal dengan memuliakan Putra-Mu dan mengutus Roh Kudus. Semoga cinta bakti dan iman kami selalu bertambah. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau dan dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah sepanjang segala masa. Amin.
   
Bacaan dari Kisah Para Rasul (25:13-21)
    
  
"Yesus telah mati, tetapi dengan yakin Paulus mengatakan, bahwa Ia hidup."
     
Waktu Paulus ditahan dalam penjara di kota Kaisarea, datanglah Raja Agripa dengan Bernike ke Kaisarea untuk mengadakan kunjungan kehormatan kepada Gubernur Festus. Karena mereka beberapa hari lamanya tinggal di situ, Festus memaparkan perkara Paulus kepada raja itu, katanya, “Di sini ada seorang tahanan yang ditinggalkan Gubernur Feliks pada waktu dia pergi. Ketika aku berada di Yerusalem, imam-imam kepala dan tua-tua orang Yahudi mengajukan dakwaan terhadap orang itu dan meminta supaya ia dihukum. Aku menjawab mereka, bahwa bukanlah kebiasaan pada orang-orang Roma untuk menyerahkan seorang terdakwa sebagai suatu anugerah sebelum ia dihadapkan dengan orang-orang yang menuduhnya dan diberi kesempatan untuk membela diri terhadap tuduhan itu. Karena itu mereka turut bersama-sama dengan aku ke mari. Pada keesokan harinya aku segera mengadakan sidang pengadilan dan menyuruh menghadapkan orang itu. Tetapi ketika para pendakwa berdiri di sekelilingnya, mereka tidak mengajukan suatu tuduhan pun tentang perbuatan jahat, seperti yang telah aku duga. Mereka hanya berselisih paham dengan dia tentang soal-soal agama mereka, dan tentang seorang yang bernama Yesus, yang sudah mati, tetapi dengan yakin Paulus mengatakan bahwa Ia hidup. Karena aku ragu-ragu bagaimana harus memeriksa perkara-perkara seperti itu, aku menanyakan apakah Paulus mau pergi ke Yerusalem, supaya perkaranya dihakimi di situ. Tetapi Paulus naik banding, Ia minta, supaya ia tinggal dalam tahanan, dan menunggu sampai perkaranya diputuskan oleh Kaisar. Karena itu aku menyuruh menahan dia sampai aku dapat mengirim dia kepada Kaisar.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = c, 2/2, PS 835 (MTA hal 271)
Ref. Puji, jiwaku, nama Tuhan, jangan lupa pengasih Yahwe.
Ayat. (Mzm 103:1-2.11-12.19-20ab; Ul: 19a, 2/4)
1. Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya!
2. Setinggi langit dari bumi, demikianlah besarnya kasih setia Tuhan atas orang-orang yang takwa kepada-Nya! Sejauh timur dari barat, demikianlah pelanggaran-pelanggaran kita dibuang-Nya.
3. Tuhan sudah menegakkan takhta-Nya di surga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu. Pujilah Tuhan, hai malaikat-malaikat-Nya, agungkanlah Dia hai pahlawan-pahlawan perkasa.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Yoh 14:26)
Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu; Ia akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (21:15-19)
  
"Gembalakanlah domba-domba-Ku!"
   
Yesus yang telah bangkit menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Sesudah mereka sarapan, Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku!” Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar, Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku!” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu! Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku!” Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika masih muda engkau sendiri mengikat pinggangmu dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki. Tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu, dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan Yesus untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
 
Renungan

    Kita ingin merenungkan makna mendalam dari "dialog kasih" antara Tuhan Yesus dan Simon Petrus pada bacaan Injil hari ini. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, keindahan dan perubahan makna kasih dalam kata "mengasihi" pada dialog tersebut tidak tampak. Dalam bacaan Injil kita mendengarkan Yesus yang bertanya: Apakah Simon mengasihi Dia, dan Simon menjawab: Benar Tuhan, aku mengasihi Engkau Padahal dalam bahasa Yunani, istilah "kasih" atau "mengasihi" yang digunakan ada dua macam: αγαπάω (agapao), dan φιλέτο (fileo).
 
 Persis dengan dua istilah itu, penginjil Yohanes ingin menyampaikan dinamika kasih antara Tuhan dan Petrus. Pada pertanyaan yang pertama dan kedua, Yesus menggunakan kata agapao. Kata agapao berarti kasih yang sempurna, kasih yang tanpa cacat, kasih yang sehabis-habisnya. Tetapi Simon Petrus sadar diri bahwa selama ini ia tidak mampu mengasihi Yesus dengan sehabis-habisnya. Simon ingat anak dosa-dosanya, terlebih saat ia menyangkal Tuhan sampai tiga kali. Itu sebuah pengalaman pahit, sebuah kejatuhan yang memalukan baginya. Petrus sadar diri bahwa ia tidak pernah mampu mengasihi Yesus secara sempurna dan sehabis-habisnya. Maka, ia hanya menjawab dengan kata fileo, yang berarti kasih yang memang tulus tetapi terbatas dan penuh kerapuhan. Dan yang amat mengharukan kemudian adalah apa yang dikatakan Tuhan Yesus pada pertanyaan yang ketiga: Yesus mengubah atau lebih tepatnya mengganti kata agapao itu dengan fileo pula. Di sini Tuhan rela menyesuaikan diri dengan kadar tingkatan kasih yang sanggup diberikan oleh Simon Petrus: kasih yang terbatas dan penuh kerapuhan. Simon sedih bahwa Tuhan harus mengatakan hal itu. Tetapi justru penyesuaian ilahi inilah yang memberikan pengharapan kepada murid-Nya yang telah mengenal derita ketidaksetiaannya. Kini Simon menjadi punya kepercayaan yang membuat ia mampu mengikuti Kristus sampai akhir hidupnya, bukan berpegang pada kesanggupannya mencintai Tuhan, tetapi justru karena belas kasihan Tuhan yang memungkinkan Petrus dapat bertahan hingga akhir, dengan kemartirannnya pada waktunya. 
 
 Kita harus jujur bahwa kita memang tidak pernah sanggup mengasihi Tuhan secara sempurna dan tanpa cacat (kasih sebagai agapao). Kita hanya sanggup mengasihi Tuhan dengan kasih yang penuh keterbatasan dan kerapuhan (kasih sebagai fileo). Barangkali ketika masih muda dan masih baru menjadi imam, bruder, suster ataupun awam termasuk yang berkeluarga: kita berjanji akan ini itu demi Tuhan, pokoknya akan sehabis-habisnya mengabdi Tuhan. Tetapi coba lihat saja ketika sudah menjadi tua, kita akan sadar bahwa aslinya kita tidak pernah sanggup mengasihi Tuhan secara sempurna dan tanpa cacat. Justru belas kasih Allah yang sebenarnya mengiringi setiap langkah dan jejak hidup panggilan dan perutusan kita hingga akhir mati.  (EM/INSPIRASI BATIN 2017)
   
Antifon Komuni (Yoh 16:13)
   
Ketika Roh Kebenaran datang, ia akan mengajarkan segala kebenaran, firman Tuhan, alleluya.

When the Spirit of truth comes, he will teach you all truth, says the Lord, alleluia.