| Home | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini | Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik | Privacy Policy |

CARI RENUNGAN

>

Jumat, 05 Juni 2009, Pw. St. Bonifasius, UskMrt


Jumat, 05 Juni 2009
Pw St. Bonifasius, UskMrt
Jumat Pertama Dalam Bulan


"Datanglah kepada-Ku kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat dan Aku akan memberikan kelegaan kepada-Mu." (Mat 11:28)


Doa Renungan
Allah Bapa kami yang maha pengasih dan penyayang, semoga kami semua sering menyambut tubuh dan darah Kristus serta menimba kekuatan baru untuk berbuat baik dan hidup suci. Semoga kami selalu mengagungkan misteri kudus tubuh dan darah-Mu, sehingga pantas menikmati hasil penebusan-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami, yang hidup dan bertahta bersama Bapa dalam persatuan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.


Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Tobit (11: 5-17)


"Aku telah disiksa oleh Tuhan, tetapi kini aku dikasihi-Nya, dan aku melihat kembali anakku, Tobia."


Pada waktu itu duduklah Hana mengamati jalan yang bakal ditempuh Tobia, anaknya. Ia telah mendapat firasat bahwa anaknya tengah datang. Berkatalah Hana kepada ayah Tobia, "Sungguh, anakmu tengah datang dan juga orang yang menyertainya." Sebelum Tobia mendekati ayahnya berkatalah Rafael kepadanya, "Aku yakin bahwa mata ayahmu akan dibuka. Oleskanlah empedu ikan itu pada matanya. Obat itu akan meresap dahulu, lalu akan mengelupaskan bintik-bintik putih itu dari matanya. Maka ayahmu akan melihat lagi dan memandang cahaya." Adapun Hana bergegas-gegas mendekap anaknya, lalu berkatalah ia, "Setelah engkau kulihat, Anakku, sekarang aku dapat mati!" Dan ia pun menangis. Tobit pun berdiri dan meskipun kakinya tersandung-sandung, ia keluar dari pintu pelataran rumah. Tobia menghampiri ayahnya dengan membawa empedu ikan itu. Lalu ditiupinya mata Tobit, ditopangnya ayahnya, dan kemudian berkatalah ia kepadanya, "Tabahkan hatimu, Ayah!" Kemudian obat itu dioleskannya pada mata Tobit dan dibiarkannya sebentar. Lalu dengan kedua belah tangannya dikelupaskannya sesuatu dari ujung-ujung matanya. Maka Tobit mendekap Tobia sambil menangis. Katanya, "Aku melihat engkau, Anakku, cahaya mataku!" Ia menyambung pula, "Terpujilah Allah! Terpujilah nama-Nya yang besar! Terpujilah para malaikat-Nya yang kudus! Hendaklah nama Tuhan yang besar berada di atas kita dan terpujilah segala malaikat untuk selama-lamanya. Sungguh, aku telah disiksa oleh Tuhan, tetapi aku melihat kembali anakku Tobia!" (Kemudian masuklah Tobia ke rumah dengan sukacita sambil memuji Allah dengan segenap hatinya. Diceritakannya kepada ayahnya bahwa perjalanannya berhasil baik; bahwa ia telah membawa uang itu dan sudah mengambil Sara anak perempuan Raguel menjadi isterinya dan bahwa isterinya masih dalam perjalanan dan sudah dekat pada pintu gerbang kota Niniwe. Maka keluarlah Tobit menjemput anak menantunya pada pintu gerbang kota Niniwe dengan sukacita seraya memuji Allah. Melihat Tobit berjalan dan maju dengan kekuatannya seperti dahulu tanpa diantar oleh siapa pun maka tercengang-cenganglah penduduk kota Niniwe. Tobit pun lalu memaklumkan di hadapan mereka bahwa ia telah dikasihani oleh Allah yang telah mencelikkan matanya. Akhirnya Tobit mendekati Sara, isteri anaknya Tobia, lalu diberkatinya dengan berkata: Selamat datang, anakku. Terpujilah Allahmu yang mengantar engkau kepada kami, hai anakku! Tuhan memberkati ayahmu, memberkati anakku Tobia dan memberkati engkau sendiri, hai anakku. Masuklah ke rumahmu dengan selamat, dengan berkat dan gembira! Masuklah, hai anakku!")
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan PS 838
Ref. Tuhan telah membebaskan, dan menyelamatkan daku
Ayat.
(Mzm 146:2abc.7.8-9a.9bc-10)
1. Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Aku hendak memuliakan Tuhan selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.
2. Tuhan tetap setia untuk selama-lamanya, Dialah yang menegakkan keadilan bagi orang yang diperas, dan memberi roti kepada orang-orang yang lapar. Tuhan membebaskan orang-orang yang terkurung.
3. Tuhan membuka mata orang buta, Tuhan menegakkan orang yang tertunduk. Tuhan mengasihi orang-orang yang benar, Tuhan menjaga orang-orang asing.
4. Anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. Tuhan itu Raja untuk selama-lamanya. Allahmu, ya Sion, turun temurun!

Bait Pengantar Injil PS 960
Ref. Alleluya, Alleluya, Alleluya
Ayat. Barangsiapa mengasihi Aku, akan mentaati sabda-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya


Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (12:35-37)

"Bagaimana mungkin Mesias itu anak Daud?"


Pada suatu hari Yesus mengajar di Bait Allah, kata-Nya, "Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah anak Daud? Daud sendiri berkata dengan ilham Roh Kudus, "Tuhan telah bersabda kepada Tuanku: Duduklah di sisi kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Jadi Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia sekaligus anaknya?" Orang yang besar jumlahnya mendengarkan Yesus dengan penuh minat.
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!



Renungan

Dewasa ini banyak juga orang yang mempertanyakan, apakah Yesus itu benar-benar Anak Allah? Kalau begitu, siapa ibunya? Itu pertanyaan yang terlalu naif, duniawi, dan bodoh.

Allah tidak beristri dan Dia melahirkan Sang Putra, yang kemudian menjadi manusia Yesus, secara rohani, lewat pengenalan diri yang sempurna. Bagi kita yang penting ialah mengakui Yesus sebagai

Tuhan, artinya percaya, bahwa Yesus itu adalah Allah, yang menciptakan langit dan bumi, bahwa Dia Mahakuasa, dapat melakukan segala sesuatu; Dia Mahatahu, mengetahui segala sesuatu dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Dia. Ia juga mengenal kita masing-masing dan mengasihi kita masing-masing pula. Namun, itu belum cukup. Kita juga harus menerima Yesus sebagai Tuhan, artinya memasuki suatu hubungan yang sungguh-sungguh pribadi dengan Dia dan menjadikan Dia titik pusat seluruh hidup kita, sehingga Ia dapat mengendalikan seluruh hidup kita; membiarkan Dia berkarya dalam seluruh hidup kita; menyerahkan hidup supaya Ia dapat membentuk, memperbarui, dan menjadikannya indah.

Ya Tuhan, aku mau menyerahkan seluruh hidupku kepada-Mu supaya Engkau sendiri yang berkuasa atasnya serta menjadikannya indah oleh kuasa Roh Kudus-Mu sendiri. Amin.


Ziarah Batin 2009

Photobucket

Kamis, 04 Juni 2009, Hari Biasa Pekan IX

Kamis, 04 Juni 2009
Hari Biasa Pekan XI


"Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita." (1Yoh 4:19)


Doa Renungan

Allah Bapa yang penuh kasih, kami tahu hari ini Engkau tetap menyertai perjalanan hidup kami. Kami ingin mendengarkan sabda-Mu kembali. Berbicaralah ya Tuhan, kami mendengarkan. Kami ingin memulai hari ini di dalam Engkau, agar seluruh hari kami jalani bersama-Mu. Dengan demikian setiap peristiwa yang akan kami alami hari ini dapat kami terima di bawah terang kasih-Mu. Dalam Kristus, Tuhan kami. Amin.


Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Tobit (6:10-11;7:1.9-17;8:4-9a)


"Semoga Tuhan menganugerahkan damai sejahtera kepada kamu berdua."



Dalam perjalanannya, Tobia dan Rafael memasuki negeri Media dan sudah sampai dekat kota Ekbatana. Lalu berkatalah Rafael kepada Tobia, "Saudara Tobia!" Sahut Tobia, "Ada apa?" Rafael menyambung, "Malam ini kita harus bermalam pada Raguel. Dia itu seorang kerabatmu, dan mempunyai seorang puteri bernama Sara." Ketika mereka tiba di kota Ekbatana, berkatalah Tobia kepada temannya, "Saudara Azarya, antarkanlah aku langsung ke rumah Raguel, saudara kami." Ia pun lalu mengantarkannya ke rumah Raguel. Raguel sedang duduk pada pintu pelataran rumahnya. Mereka memberi salam kepada Raguel. Dia membalas, katanya, "Banyak salam, Saudara-saudara. Selamat datang!" Lalu mereka dipersilakannya masuk. Kemudian Raguel berkata kepada Tobia, Tuhan memberkati engkau, Nak. Engkau adalah putera seorang mulia dan baik! Alangkah celakanya ayahmu! Orang yang begitu baik dan dermawan itu menjadi buta!" Kemudian Raguel menyembelih seekor domba betina dari kawanannya, dan ia menyambut Tobia dan Rafael dengan ramah. Sesudah mencuci dan membasuh diri mereka duduk makan. Berkatalah Tobia kepada Rafael, "Saudara Azarya, katakanlah kepada Raguel, supaya saudariku Sara diberikannya kepadaku." Mendengar perkataan itu berkatalah Raguel kepada pemuda itu, "Makan dan minumlah, serta bersenang-senanglah malam ini. Memang, Saudara, tak seorang pun lebih berhak mengambil Sara, anakku, sebagai isterinya, daripada engkau. Karena itu aku tidak berwenang lagi memberikannya kepada seseorang kecuali kepadamu. Sebab engkaulah yang paling karib. Tetapi, Anakku, aku harus memberitahukan kebenaran. Sara sudah kuberikan kepada tujuh laki-laki di antara saudara kita! Tetapi semuanya mati pada malam pertama menghampiri Sara. Maka Anakku, baiklah sekarang makan dan minum saja. Tuhan akan mengambil tindakan bagimu!" Tetapi sahut Tobia, "Aku tidak akan makan atau minum apa-apa, sebelum engkau mengambil keputusan tentang diriku." Maka jawab Raguel, "Baiklah! Sara kuberikan kepadamu sesuai dengan ketetapan kitab Musa. Allah sudah memutuskan, bahwa Sara harus diberikan kepadamu. Maka hendaklah menerima saudarimu ini. Mulai sekarang ini engkau menjadi kakaknya, dan ia menjadi adikmu. Semenjak hari ini ia diberikan kepadamu untuk selama-lamanya. Dan, Anakku, semoga kamu pada malam ini juga diberkati oleh Tuhan semesta langit. Semoga Ia menurunkan kasih setia dan damai sejahtera atas dirimu." Lalu Raguel memanggil Sara, anaknya. Ketika Sara datang, Raguel memegang tangannya, dan dengan demikian ia menyerahkan Sara kepada Tobia, sambil berkata, "Sungguh, sesuai dengan hukum Taurat ia kupercayakan kepadamu dan seturut ketetapan yang tersurat dalam kitab Musa ia kuberikan kepadamu menjadi isterimu. Ambillah dia, dan antarkanlah kepada ayahmu dengan sehat walafiat. Moga-moga Yang Berkuasa di surga menganugerahkan damai sejahtera kepada kamu berdua. Selesai makan dan minum mereka semua mau pergi tidur. Tobia diantar ke kamar yang sudah disiapkan untuk mereka. Setelah masuk kamar tidur, Tobia dan Sara berdoa dan mohon supaya mereka mendapat perlindungan. Mereka memanjatkan doa sebagai berikut: Terpujilah Engkau, ya Allah leluhur kami, dan terpujilah nama-Mu sepanjang sekalian abad. Hendaknya sekalian langit memuji Engkau, dan juga segenap ciptaan-Mu untuk selama-lamanya. Engkaulah yang telah menjadikan Adam, dan baginya telah Kaubuat Hawa isterinya sebagai pembantu dan penopang. Dari mereka berdua lahirlah umat manusia seluruhnya. Engkau pun bersabda, 'Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja, mari Kita menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.' Ya Tuhan, bukan karena nafsu birahi kuambil saudariku ini melainkan dengan hati benar. Sudilah kiranya mengasihani kami berdua, dan membuat kami menjadi tua bersama." Serentak berkatalah mereka, "Amin! Amin!" Kemudian mereka tidur semalam-malaman.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.


Mazmur Tanggapan
Ref. Berbahagialah semua orang yang takwa pada Tuhan.
Ayat.
(Mzm 128:1-2.3.4-5)
1. Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau menikmati hasil jerih payahmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!
2. Isterimu akan menjadi laksana pohon anggur subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejamu!
3. Sungguh, demikianlah akan diberkati Tuhan orang laki-laki yang takwa hidupnya. Kiranya Tuhan memberkati engkau dari Sion: boleh melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu.


Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Berilah aku pengertian, maka aku akan mentaati hukum-Mu, aku akan menepatinya dengan segenap hati, ya Tuhan.


Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (12:28b-34)


"Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah."


Pada suatu hari datanglah seorang ahli Taurat kepada Yesus, dan bertanya, "Perintah manakah yang paling utama?" Yesus menjawab, "Perintah yang utama ialah: 'Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita itu Tuhan yang Esa! Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan perintah yang kedua, ialah: Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.' Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini. Berkatalah ahli Taurat itu kepada Yesus, "Guru, tepat sekali apa yang Kaukatakan, bahwa Dia itu esa, dan tak ada Allah lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati, dengan segenap pengertian, dan dengan segenap kekuatan serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri, jauh lebih utama daripada semua kurban bakar dan persembahan." Yesus melihat betapa bijaksananya jawaban orang itu. Maka Ia berkata kepadanya, "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah." Dan tak seorang pun masih berani menanyakan sesuatu kepada Yesus.
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan

· Kasih memang merupakan hukum utama dan pertama, semua hukum atau aneka tatanan dan aturan hidup bersama dibuat dan diundangkan atau diberlakukan hemat saya demi kasih, dijiwai oleh kasih, agar siapapun yang terkait dengan aturan atau tatanan tersebut hidup saling mengasihi.


Hidup saling mengasihi hemat saya mudah dihayati jika masing-masing dari kita berani menghayati diri sebagai ‘yang terkasih’, yang diciptakan oleh Allah dalam dan oleh kasih-Nya dengan bekerja sama dengan atau partisipasi dari orangtua, bapak-ibu kita yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh. Maka kami berharap para bapak-ibu atau orangtua yang telah saling mengasihi yang demikian itu dapat menjadi saksi atau teladan hidup saling mengasihi bagi anak-anaknya. Sebaliknya siapapun yang merasa menjadi anak, dan kiranya kita semua pernah atau masih menjadi anak dari orangtua kita, marilah kita hayati bahwa kita telah menerima kasih melimpah ruah dari Allah melalui orangtua atau bapak-ibu kita masing-masing. Pengalaman hidup saling mengasihi di dalam keluarga akan menjadi bekal atau modal yang dapat dikembangkan dalam hidup bersama yang dijiwai oleh kasih. Mengasihi dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan atau tenaga berarti mengasihi tanpa syarat atau catatan kaki.


Kasih sejati tidak dapat diukur dengan uang atau harta benda. Ingatlah juga kasih sering disimbolkan dengan cincin yang bulat dan tanpa ujung pangkal, yang berarti total dan tanpa batas waktu maupun tempat. Marilah kita sikapi atau hadapi aneka masalah, tantangan atau hambatan serta aneka tatanan dan aturan dalam dan dengan kasih.


· "Bangunlah, adinda, mari kita berdoa dan mohon kepada Tuhan kita, semoga dianugerahkan-Nya belas kasihan serta perlindungan." (Tb 8:4) , demikian ajakan Tobia terhadap Sara, isterinya. Apa yang dilakukan Tobia ini kiranya dapat menjadi teladan bagi para suami-isteti: berdoa bersama untuk mohon belas kasihan dan perlindungan Tuhan dalam hidup saling mengasihi dan semoga janji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati sungguh terjadi dalam diri suami-isteri. Ajakan berdoa tersebut dilakukan sebelum tidur bersama, atau mungkin sebelum mewujudkan hidup saling mengasihi dengan hubungan seks atau persetubuhan.


Biarlah belas kasihan Tuhan menjadi nyata dalam bentuk anugerah besar, yaitu anak, sebagai buah saling mengasihi. Kebiasaan berdoa bersama kiranya juga merupakan jalan bagi suami-isteri agar dijauhkan dari perncobaan untuk berselingkuh atau menyeleweng. Pada masa kini kiranya cukup banyak suami-isteri sering harus berpisah secara phisik karena tugas atau pekerjaan, maka baiklah dengan adanya sarana komunikasi modern seperti HP atau email, hendaknya saling berkomunikasi untuk menentukan kapan atau jam berapa mau berdoa bersama. Biarlah motto ‘jauh di mata dekat di hati’ menjadi nyata antara lain dengan berdoa bersama pada waktu yang sama, meskipun tempat berbeda atau berjauhan. Ingatlah ketika sedang sendirian, alias tidak bersama suami atau isteri, hendaknya tidak berselingkuh atua menyeleweng. Mungkin ketika anda berlingkuh atau menyeleweng merasa aman karena tidak diketahui langsung oleh pasangan, tetapi ingatlah bahwa Tuhan tahu dan melihatnya, dan pada suatu saat pasangan andapun pasti akan mengetahuinya juga. Hidup saling mengasihi dalam keadaan atau situasi apapun merupakan kebijakan yang mengagumkan bagi orang lain.



Ignatius Sumarya, SJ


Photobucket

Rabu, 03 Juni 2009, Pw. St. Carolus Lwanga dkk, Martir

Rabu, 03 Juni 2009
Pw. St. Carolus Lwanga dkk, Martir

"Ia bukanlah Allah orang mati melainkan Allah orang hidup"


Doa Renungan Pagi

Bapa, sabda-Mu adalah pelita dan terang bagi jalan kami. Kami bersyukur karena rahmat penyertaan-Mu dalam setiap perjalanan hidup kami. Biarlah Sabda-Mu yang adalah terang ini, selalu kami ingat, sehingga apa pun peristiwa yang kami alami hari ini, kami tahu bahwa Engkau selalu menyertai kami. Amin.


Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Tobit (3:1-11a,16-17a)

"Permohonan Tobit dan Sara di hadapan kemuliaan Allah dikabulkan."


Pada waktu itu Tobit bersedih hati, mengeluh dan menangis. Dengan keluh kesah ia berdoa begini, "Engkau adil, ya Tuhan, dan adillah semua perbuatan-Mu. Segala tindakan-Mu penuh belas kasih dan kebenaran. Engkaulah hakim atas dunia semesta. Oleh sebab itu, ya Tuhan, ingatlah akan daku, pandanglah aku. Janganlah aku Kauhukum sekedar dosa dan kekhilafanku atau setimpal dengan dosa nenek moyangku! Aku telah berdosa di hadapan-Mu dan melanggar segala perintah-Mu. Maka kami Kauserahkan untuk dirampasi, ditawan dan dibunuh. Kami Kaujadikan sindiran dan tertawaan, orang ternista di tengah sekalian bangsa di mana kami Kaucerai-beraikan. Memang tepatlah hukuman-Mu, jika kini aku Kauperlakukan sekedar segala dosaku. Karena kami tidak memenuhi perintah-perintah-Mu dan tidak hidup baik di hadapan-Mu. Kini berbuatlah kepadaku sekehendak-Mu, sudilah mencabut nyawaku, sehingga lenyaplah aku dari muka bumi dan kembali menjadi debu. Sebab mati lebih berguna bagiku daripada hidup. Karena aku harus mengalami nista dan fitnah, dan sangat sedih rasa hatiku. Ya Tuhan, biarlah aku lepas dari susah ini, biarlah aku lenyap menuju tempat abadi. Janganlah wajah-Mu Kaupalingkan daripada-Ku, ya Tuhan. Lebih bergunalah mati saja daripada melihat banyak susah dalam hidupku. Sebab kalau mati, tak dapat lagi aku mendengar nista." Pada hari yang sama terjadilah bahwa Sara, puteri Raguel, di kota Ekbatana di negeri Media mendengar dirinya dihina oleh seorang pelayan perempuan ayahnya. Adapun Sara itu sudah diperisterikan kepada tujuh pria. Tetapi mereka semua dibunuh oleh Asmodeus, setan jahat, sebelum Sara bersatu dengan mereka sebagaimana layaknya seorang isteri. Kata pelayan itu kepada Sara, "Engkau sendirilah yang membunuh para suamimu! Engkau sudah diperisterikan kepada tujuh orang, tetapi tidak ada seorang pun yang kaunikmati! Masakan kami kaucambuki karena mereka mati! Baiklah engkau menyusul mereka saja, supaya kami tidak pernah melihat seorang putera atau puteri dari engkau!" Maka pada hari itu juga Sara sangat sedih hati, lalu menangis tersedu-sedu. Kemudian ia naik ke bilik atas kepunyaan ayahnya dengan maksud menggantung diri. Tetapi berpikirlah ia dalam hati, "Kiranya ayahku nanti dinistakan karena hal itu dan orang akan berkata kepadanya, 'Bapa hanya punya satu puteri kesayangan. Celakalah Bapa, ia telah menggantung diri." Niscaya karena sedihnya, ayahku yang lanjut umur itu akan mati. Lebih baik aku tidak menggantung diri, melainkan berdoa kepada Tuhan, supaya aku mati saja sehingga tak usah mendengar lagi nista selama hidupku." Segera Sara menadahkan tangannya, lalu berdoa, katanya, "Terpujilah Engkau, ya Allah penyayang! Aku mengarahkan mataku kepada-Mu. Semoga aku dilenyapkan saja dari muka bumi, sebab aku tidak mau lagi mendengar nista." Pada saat itu juga kedua orang tersebut, yakni Tobit dan Sara, dikabulkan permohonannya di hadapan kemuliaan Allah. Allah mengutus Rafael untuk menyembuhkan kedua-duanya, yaitu dengan menghapus bintik-bintik putih dari mata Tobit, sehingga ia dapat melihat cahaya Allah dengan matanya sendiri, dan dengan memberikan Sara, puteri Raguel, kepada Tobia, putera Tobit, sebagai isteri, dan dengan melepaskannya dari Asmodeus, setan jahat itu. Memang Tobia lebih berhak memperoleh Sara daripada semua orang lain yang ingin memperisteri dia. Pada saat yang sama Tobit kembali dari pelataran masuk ke rumahnya, dan Sara, puteri Raguel, turun dari bilik atas itu.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Kepada-Mu, ya Tuhan, kuarahkan jiwaku.
Ayat.
(Mzm 25:2-4a.4b-5ab.6-7bc.8-9)
1. Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas diriku.
2. Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya Tuhan, tunjukkanlah lorong-lorong-Mu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan daku.
3. Ingatlah segala rahmat dan kasih setia-Mu, ya Tuhan, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. Ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya Tuhan.
4. Tuhan itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang bersahaja.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Akulah kebangkitan dan kehidupan. Barangsiapa percaya pada-Ku, tak akan mati.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (12:18-27)


"Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup."

Pada suatu hari datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita, 'Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya.' Ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang wanita, lalu mati tanpa meninggalkan keturunan. Maka yang kedua mengawini dia, tetapi juga mati tanpa meninggalkan keturunan. Demikian juga yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuh-tujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Akhirnya wanita itu pun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami wanita itu? Sebab ketujuh-tujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka, "Kalian sesat, justru karena kalian tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab di masa kebangkitan orang mati, orang tidak kawin atau dikawinkan; mereka hidup seperti malaikat di surga. Mengenai kebangkitan orang mati, tidakkah kalian baca dalam kitab Musa, yaitu dalam cerita tentang semak berduri, bahwa Allah bersabda kepada Musa, 'Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat."
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Saudara-saudari terkasih, berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Orang-orang yang bersikap mental materialistis pada umumnya apa yang menjadi keprihatinan atau perhatiannya hanya sampai pada apa yang kelihatan, yang dapat dilihat dengan mata kepala. Maka isi pikiran atau otaknya juga hal-hal duniawi atau materialistis. Dengan kata lain mereka tidak atau kurang percaya kepada Allah, kepada Penyelenggaraan Ilahi, yang terus menerus berkarya dalam seluruh ciptaan-Nya di bumi ini, baik dalam diri mereka yang lemah atau kuat, kaya atau miskin, kecil atau besar, dst.. Mereka tidak percaya bahwa “Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup”. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menghayati ‘Allah orang hidup’, artinya kita hidup dan bertindak dalam dan atas nama Allah dalam situasi atau kondisi apapun, kapanpun dan dimanapun. Dalam keadaan, kondisi atau situasi apapun kita tetap hidup, dinamis, gembira, ceria, bergairah, penuh pengharapan. Yang kita kejar atau usahakan adalah keselamatan jiwa, sebagaimana dikatakan oleh St.Ignatius Loyola: “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan demikian menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan” (Ignatius Loyola, LR no 23). Ciptaan lain, harta benda/uang, sesama manusia, tanaman dan binatang merupakan pertolongan atau dukungan bagi kita untuk mengusahakan keselamatan jiwa; semuanya itu bersifat sementara, tidak abadi, termasuk kita manusia yang lemah dan rapuh ini. Maka hendaknya kita juga memfungsikan anggota-anggota tubuh kita untuk mengejar keselamatan jiwa, dan dengan demikian harta benda/uang, aneka kekayaan atau milik kita secara otomatis menjadi sarana atau pendukung mengejar keselamatan jiwa, atau kesucian hidup.

· "Engkaulah adil, ya Tuhan, semua perbuatanMupun adil pula; semua tindakan-Mu belas kasihan dan kebenaran, dan dunia semesta diadili oleh-Mu. Oleh sebab itu, ya Tuhan, ingatlah kepadaku, pandangilah aku! Jangan aku Kauhukum sekedar segala dosaku dan setimpal dengan kekhilafanku kepadaMu, atau sekedar dosa yang diperbuat nenek moyangku!” (Tb 3:2-3). Doa keluh kesah permohonan ini mungkin juga menjadi doa permohonan dan keluh kesah kita kepada Tuhan. Marilah kita mohon belah kasihan dan pengampunan Tuhan atas dosa dan kesalahan kita. Sebenaranya jika kita berani mawas diri dengan benar kita telah menerima belas kasihan Tuhan melimpah ruah. Entah telah berapa banyak kita berbuat dosa atau bersalah, namun kita dibiarkan dan dianugerahi untuk terus hidup dengan bebas. Tuhan tidak menghukum kita. Mungkin kita harus menghadapi aneka tantangan, hambatan atau kesulitan, baiklah hal itu kita hayati sebagai wahana untuk semakin menghayati belas kasihan Tuhan. Belas kashan Tuhan dapat menjadi nyata dalam aneka pertolongan, bantuan atau dukungan dari orang lain atau sesama kita dalam menghadapi aneka tantangan, hambatan atau kesulitan. Bukankah kita telah berhasil mengatasi aneka tantangan, bambatan atau kesulitan karena bantuan dan dukungan orang lain? Marilah kita hayati semua bantuan, dukungan atau pertolongan orang lain sebagai belas kasihan Tuhan pada kita yang lemah dan rapuh ini. Dengan menghayati belas kasihan Tuhan kita tidak perlu khawatir akan masa depan, termasuk ketika kita dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Rumah masa depan, hidup mulia di sorga bersama Allah Pencipta dan Yesus yang kita imani, tersedia bagi kita yang menghayati belas kasihan Tuhan.



Ignatius Sumarya, SJ

Photobucket

Selasa, 02 Juni 2009, Hari Biasa Pekan IX

Selasa, 02 Juni 2009
Hari Biasa Pekan IX

"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah"

Doa Renungan

Allah Bapa kami, yang mahakuasa, Yesus Putra-Mu terkasih mengajak kami untuk mengikuti-Nya tanpa menengok apa yang telah lalu. Buatlah kami pantas bagi kerajaan-Mu, sehingga kami bersedia dan dengan setia mengikuti panggilan-Mu serta melaksanakan sabda-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Tobit (2:9-14)


"Semakin aku diolesnya dengan obat, semakin buta mataku, karena bintik-bintik putih itu."


9 Pada malam sesudah menguburkan jenazah, aku, Tobit, membasuh diriku, lalu pergi ke pelataran rumah dan tidur dekat pagar temboknya. Mukaku tidak tertudung karena panas. 10 Aku tidak tahu bahwa ada burung pipit di tembok tepat di atas diriku. Maka jatuhlah tahu hangat ke dalam mataku. Muncullah bintik-bintik putih. Akupun lalu pergi kepada tabib untuk berobat. Tetapi semakin aku diolesnya dengan obat, semakin buta mataku karena bintik-bintik putih itu, sampai buta sama sekali. Empat tahun lamanya aku tidak dapat melihat. Semua saudaraku merasa sedih karena aku. Dua tahun lamanya aku dipelihara oleh Ahikar sampai ia pindah ke kota Elumais. 11 Di masa itu isteriku Hana mulai memborong pekerjaan perempuan. 12 Pekerjaan itupun diantarkannya kepada para pemesan dan ia diberi upahnya. Pada suatu hari, yaitu tanggal tujuh bulan Dustus, diselesaikannya sepotong kain, lalu diantarkannya kepada pemesan. Seluruh upahnya dibayar kepadanya dan ditambah juga seekor anak kambing jantan untuk dimakan. 13 Tetapi setiba di rumahku maka anak kambing itu mengembik. Lalu isteriku kupanggil dan berkata: "Dari mana anak kambing itu? Apa itu bukan curian? Kembalikanlah kepada pemiliknya! Sebab kita tidak diperbolehkan makan barang curian!" 14 Sahut isteriku: "Kambing itu diberikan kepadaku sebagai tambahan upahku." Tetapi aku tidak percaya kepadanya. Maka kusuruh kembalikan kepada pemiliknya -- Karena perkara itu aku merah padam karena dia! -- Tetapi isteriku membantah, katanya: "Di mana gerangan kebajikanmu? Di mana amalmu itu? Betul, sudah ketahuan juga gunanya bagimu!"
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Hai orang jujur teguh, penuh kepercayaan kepada Tuhan.
Ayat.
(Mzm 112:1-2.7bc-8.9)
1. Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati.
2. Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada Tuhan. Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya.
3. Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (12:13-17)


"Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah."


13 Pada waktu itu beberapa orang Farisi dan Herodian disuruh menghadap kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. 14Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?" 15 Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!" 16 Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar."17 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!" Mereka sangat heran mendengar Dia.Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Orang-orang Farisi dan Herodian kiranya merasa tersingkir atau mengalami erosi wibawa sebagai tokoh masyarakat atau agama karena kehadiran Yesus. Maka mereka berusaha menjebak Yesus perihal pajak, maklum karena ajaran dan kehadiran Yesus kiranya rakyat menjadi sadar perihal pajak, yaitu mereka harus membayar pajak melebihi apa yang harus dibayar. Maka kiranya ada rakyat yang mbandel membayar pajak, mengingat dan memperhatikan sebagian besar masukan pajak dikorupsi oleh orang-orang Farisi dan Herodian. Pemasukan pajak berkurang berarti yang dapat dikorupsi juga berkurang alias pendapatan orang-orang Farisi dan Herodian berkurang juga. Ketika Yesus mendengar jebakann mereka perihal harus membayar pajak atau tidak, Yesus menjawab: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”. Jawaban Yesus inilah kiranya yang juga menjadi arahan atau motto Mgr Alb.Sugijapranata SJ, Uskup Semarang di masa perjuangan dan juga pahlawan nasional: “Jadilah 100% warganegera dan 100% Katolik/Kristen”. Kita dipanggil untuk jujur sebagai warganegara maupun orang beriman. “Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta relah berkorban untuk kebenaran” (Prof Dr Edi Sedyawaati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Kita dipanggil untuk semakin beriman yang juga semakin berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan jujur. Marilah kita berantas aneka macam bentuk korupsi yang masih marak dalam kehdupan bersama kita masa kini.

· "Dari mana anak kambing itu? Apa itu bukan curian? Kembalikanlah kepada pemiliknya! Sebab kita tidak diperbolehkan makan barang curian!"(Tb 2:13). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Suatu ajakan untuk tidak melakukan korupsi pada tingkat dan bidang kehidupan bersama dimanapun dan kapanpun. Kata bahasa Latin ‘corruptio’ (1)secara aktif berarti hal merusak, hal membuat busuk, pembusukan, penyuapan, (2) secara pasif berarti keadaan dapat binasa, kebinasaan, kerusakan, kebusukan, kefanaan, korupsi, kemerosotan. Sedangkan kata bahasa Latin ‘corruptor’ berarti perusak, pembusuk, penggoda, pemerdaya, penyuap. Arti yang paling mengena dari korupsi adalah pembusukan, berarti para koruptor bertindak busuk, membuat busuk lingkungan hidup dan kerja. Korupsi atau mencuri berarti membuat hidup bersama busuk, dan apa yang busuk kiranya menjijikkan, tidak enak dibau maupun dirasakan. Dengan ini kami berharap kepada para koruptor untuk meninggalkan cara hidup yang membusukkan tersebut serta mengembalikan apa yang telah diambil dengan tidak benar. Kita juga dipanggil untuk membina diri maupun sssama dan saudara-saudari kita hidup jujur serta tidak korupsi. Salah satu cara pembinaan yang baik antara lain di sekolah atau perguruan tinggi diberlakukan ‘dilarang menyontek dalam ulangan maupun ujian’.Membiarkan kebiasaan menyontek berarti menyuburkan perilaku korupsi. Anak-anak di dalam keluarga hendaknya juga dibiasakan hidup dan bertindak jujur, dan tentu saja butuh keteladanan dari para orangtua. Memang uang sungguh menjadi penggoda untuk korupsi atau mencuri, maka hendaknya menempatkan uang di tempat yang tidak merangsang bagi siapapun untuk berbuat dosa, mencuri atau korupsi.
Ignatius Sumarya, SJ

Photobucket

Senin, 01 Juni 2009, Pw. St. Yustinus, Martir

Senin, 01 Juni 2009
Pw. St. Yustinus, Martir

"Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. " (Mzm 112:1-2)


Doa Renungan

Allah Bapa kami, siapapun juga yang percaya pada Yesus Putra-Mu, Kaucurahi dengan Roh Kudus agar hati dan budinya menjadi suci dan murni, dibersihkan dari kuasa kegelapan dan dibebaskan dari kuasa jahat. Tinggallah disini, dan perbaharuilah hidup kami agar perbuatan baik dan luhurlah yang kami kerjakan, sehingga kami pantas ambil bagian dalam memuliakan nama-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Tobit (1:3; 2:1-8)

"Tobit lebih takut kepada Tuhan daripada kepada raja."


Inilah kisah Tobit, suku Naftali, yang diangkut sebagai tawanan pada zaman Salmaneser, raja Asyur. Aku, Tobit menempuh jalan kebenaran dan kesalehan seumur hidupku dan banyak melakukan kebajikan kepada para saudara dan segenap bangsaku yang bersama dengan daku telah berangkat ke pembuangan, ke negeri Asyur ke kota Niniwe. Sekali peristiwa pada hari raya Pentakosta, yaitu hari raya Tujuh Minggu, disajikanlah kepadaku suatu jamuan makan yang baik. Akupun telah duduk untuk makan. Sebuah meja ditempatkan di hadapanku dan kepadaku disajikan banyak hidangan. Tetapi berkatalah aku kepada anakku Tobia: "Nak, pergilah dan jika kaujumpai seorang miskin dari saudara-saudara kita yang diangkut tertawan ke Niniwe dan yang dengan segenap hati ingat kepada Tuhan, bawalah ke mari, supaya ikut makan. Aku hendak menunggu, anakku, hingga engkau kembali." Maka keluarlah Tobia untuk mencari seorang saudara kita yang miskin. Sepulangnya berkatalah ia: "Pak!" Sahutku: "Ada apa, nak?" Jawabnya: "Salah seorang dari bangsa kita sudah dibunuh. Ia dicekik dan dibuang di pasar. Masih ada disitu juga!" Aku melonjak berdiri dan jamuan itu kutinggalkan sebelum kukecap. Mayat itu kuangkat dari lapangan dan kutaruh di dalam salah satu rumah hingga matahari terbenam, untuk kukuburkan nanti. Kemudian aku pulang, membasuh diriku, lalu makan dengan sedih hati. Maka teringatlah aku kepada firman yang diucapkan nabi Amos mengenai kota Betel ini: "Hari-hari rayamu akan berubah menjadi hari sedih dan segala nyanyianmu akan menjadi ratap!" Lalu menangislah aku. Setelah matahari terbenam aku pergi menggali liang lalu mayat itu kukuburkan. Para tetangga menertawakan aku, katanya: "Ia belum juga takut! Sudah pernah ia dicari untuk dibunuh karena perkara yang sama. Dahuli ia melarikan diri dan sekarang ia menguburkan mayat lagi!" Tetapi, Tobit lebih takut kepada Allah daripada kepada raja.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Berbahagialah orang yang takwa kepada Tuhan
Ayat.
(Mzm 112:1-2.3-4.5-6)
1. Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati.
2. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya.Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil.
3. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (12:1-12)

"Mereka menangkap dan membunuh putra kesayangan, dan melemparkannya ke luar kebun anggur."


Pada suatu hari Yesus berbicara kepada imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan kaum tua-tua dengan perumpamaan, kata-Nya, "Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita." Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia."
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

· “Bumi dan semua isinya ini adalah titipan Tuhan, yang harus kita kelola dn urus atau garap sebaik mungkin”, demikian kata seorang bijak. Kita semua adalah penggarap-penggarap atau pekerja-pekerja, sebagaimana disabdakan oleh Allah “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."( Kej 1:28). Jika dicermati, misalnya di Indonesia, rasanya banyak orang serakah yang tidak menguasai bumi dan isinya, melainkan dikuasai oleh bumi seisinya, antara lain nampak dalam pembabatan hutan dan pembetonan lahan/tanah, yang menyebabkan banjir maupun kebakaran. Tanah dan aneka tanaman yang menjadi ‘batu penjuru’ kehidupan dirusak dan dihancurkan seenaknya. Jika mereka merusak tanah dan tanaman rasanya mereka juga telah menyingkirkan orang-orang baik dan jujur di dalam masyarakat. Maka kami berharap kepada para pejuang kebenaran, keadilan dan kesejahteraan hidup bersama untuk terus berjuang, sadari dan hayati bahwa rakyat atau orang kebanyakan mendukung perjuangan dan kinerja anda. Memang dalam memperjuangkan keadilan, kebenaran dan kesejahteraan umum akan berhadapan dengan beberapa oknum pejabat yang serakah dan sombong serta materialistis. Jadilah ‘martir-martir’ masa kini, pembawa kebenaran, keadilan, kesejahteraan dan perdamaian sejati.

· "Ia belum juga takut! Sudah pernah ia dicari untuk dibunuh karena perkara yang sama. Dahulu ia melarikan diri dan sekarang ia menguburkan mayat lagi!" (Tb 2:8) , demikian komentar atau tanggapan para tetangga Tobia atau apa yang telah dilakukan. Tobia dikerjar-kejar dan akan dibunuh, namun ia tidak takut atas ancaman tersebut. Ia tetap setia memperhatikan saudara-saudari sebangsanya yang miskin dan berkekurangan atau menguburkan mereka yang mati kelaparan, dst.. Para korban politik atau keserakahan penguasa pada umumnya kurang ada yang memperhatikan, misalnya korban gusuran. Demi mempertahankan hidup para korban gusuran pada umumnya terus berusaha dan berjuang untuk mempertahankan hidup dengan berbagai usaha atau upaya. Sedangkan mereka yang menjadi ‘motor’ mempertahankan hak hidup pada umumnya menjadi incaran pembunuhan dari orang-orang yang materialistis, gila harta benda/uang, kuasa dan kedudukan. “Mati satu tumbuh seribu” demikian motto para pejuang hak asasi manusia, harkat martabat manusia. Marilah kita meneladan Tobia yang setia melaksanakan perintah: "Nak, pergilah dan jika kaujumpai seorang miskin dari saudara-saudara kita yang diangkut tertawan ke Niniwe dan yang dengan segenap hati ingat kepada Tuhan, bawalah ke mari, supaya ikut makan. Aku hendak menunggu, anakku, hingga engkau kembali." (Tb 2:2) Orang-orang miskin ‘yang dengan segenap hati ingat akan Tuhan’ kiranya ada di sekitar kita, maka marilah mereka kita sapa dan kasihi serta kita tolong agar mereka hidup damai dan sejahtera. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa hidup bersama dengan mereka yang miskin dan berkurangan mendorong kita untuk ‘dengan segenap hati ingat akan Tuhan’.



Ignatius Sumarya, SJ

Hari Raya Pentakosta, Minggu, 31 Mei 2009

Minggu, 31 Mei 2009
HARI RAYA PENTAKOSTA

"Kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku."


Doa Renungan

Allah Bapa kami yang mahapengasih, curahkan lagi kepada kami semangat yang telah kami terima dalam pembaptisan dan krisma, dan semoga kami semakin mendalami serta menghayati iman kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kisah Para Rasul (2:1-11)

"Semua dipenuhi Roh Kudus dan mulai berbicara."


1 Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. 2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; 3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. 4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. 5 Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. 6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. 7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? 8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: 9 kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, 10 Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, 11 baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan PS 828
Ref. Utuslah Roh-Mu ya Tuhan dan jadi baru seluruh bumi.
Ayat.
(Mzm 104:1.24.29-30.31.34)
1. Allahku nama-Mu hendak kupuji. Engkau amat agung berdandan sinar kebesaran.
2. Ya Tuhan berselubungkan cahaya. Bagai jubah raja langit Kaupasang bagai kemah.
3. Firman-Mu disampaikan oleh angin. Api yang berkobar tunduk pada-Mu bagai hamba.

Bacaan Kedua
Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Galatia (5:16-25)

"Buah-buah Roh."


16 Saudara-saudara, hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. 17 Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. 18 Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. 19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, 20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, 21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. 22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, 23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. 24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. 25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil PS 964
Ref. Alleluya
Ayat. Datanglah, hai Roh Kudus, penuhilah hati kaum beriman dan nyalakanlah api cinta-Mu di dalam hati mereka.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (15:26-27.16:12-25)

"Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran."


Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, 26 Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. 27 Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku." 12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. 13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. 14 Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. 15 Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku."
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus.

DIMINTA DATANG MENOLONG

Rekan-rekan yang baik!
Pada hari Pentakosta tahun B ini dibacakan kata-kata Yesus dalam Yoh 15:26-27. Teks itu jelas-jelas menyebut kedatangan Penolong yang diutus Yesus dari Bapa. Bagaimana memetik warta Pentakosta khususnya bagi kita sekarang? Adakah relevansinya bagi zaman kita dan lingkungan kita sekarang?

Sabda Tuhan dapat dan semestinya menjadi bagian dalam kehidupan, khususnya pada saat-saat orang merasa tak berdaya, di waktu kesusahan dan penderitaan, juga dalam kesulitan rohani. Kita biarkan Sabda Tuhan ikut memikul beban penderitaan kita. Kita boleh berharap, upaya kita ikut menangani akibat bencana juga akan disertai kekuatan dari atas. Marilah kita pahami gerak gerik kehadiran Penolong yang diutus Yesus bagi murid-muridnya dan bagi kita juga, sekarang ini, dalam keadaan ini.

KETABAHAN BERSAMA

Petikan hari ini sebenarnya bagian dari pesan-pesan Yesus kepada para murid pada perjamuan terakhir. Setelah menyampaikan perumpamaan pokok anggur dan ranting ( Yoh 15:1-8; Minggu Paskah V tahun B) dan imbauan agar menumbuhkan kebersamaan yang sejati (Yoh 15:9-17; Minggu Paskah VI tahun B), Yesus mengajak mereka melihat pelbagai kenyataan hidup yang kerap kali kurang memberi rasa tenteram. Ditegaskannya bahwa ia sendiri dimusuhi dunia. Maka tak usah heran bila para pengikutnya juga akan mengalami hal yang sama. Kedatangan Yesus ke dunia membuat jelas siapa dan apa yang termasuk wilayah gelap tadi. Yang tadinya tidak kentara sekarang mulai dapat dirasakan hadir dan mencekam. Inilah teka teki kehidupan di dunia ini. Sering yang jahat, yang menyakitkan, yang membingungkan itu tidak dapat diterangkan kejadiannya, hanya dapat dirasakan adanya serta daya perusaknya. Ini semua dikatakan dalam Yoh 15:18-25 yang menjadi lanjutan dari bacaan Injil hari-hari Minggu sebelumnya tadi. Dapatkah kita hidup terus dalam keadaan ini? Mana bisa kita tahan? Begitulah tanya para murid dalam hati kecil mereka. Apalagi katanya sebentar lagi guru mereka akan diambil dan mereka akan sendirian. Apa gunanya bertahan? Injil hari Pentakosta kali ini menjawab kegundahan itu. Dan kekuatan yang muncul dari Injil itu dapat juga membuat kita berani ikut merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang tertimpa bencana. Keberanian itu bisa menjadi kekuatan bagi mereka.

Mari kita lihat keadaan para murid dulu. Hingga saat itu mereka bisa membanggakan menjadi pengikut seorang tokoh tenar dan dianggap penting di mana-mana. Semua yang dilakukan Yesus serta tanggapan orang banyak membuat mereka percaya diri. Masa depan yang cemerlang kini tersedia bagi mereka. Yesus sendiri sebenarnya beberapa kali berusaha membuat kepala mereka tetap dingin. Tetapi biasanya antusiasme orang tidak gampang diatur akal. Hanya kenyataanlah yang dapat membuat mereka sadar apa yang sedang terjadi. Permusuhan, kedengkian para pimpinan masyarakat Yahudi waktu itu mulai terasa. Mula-mula hanya dalam ujud mempertanyakan kompetensi Yesus mengajarkan Taurat. Kelompok baru di sekitar Yesus ini dirasa sebagai ancaman. Konflik menjadi makin tajam dan akhirnya mereka menemukan pelbagai cara untuk mendiskreditkan Yesus di hadapan lembaga resmi agama dan pemerintahan Romawi. Kelanjutannya kita ketahui. Ketika Yesus ditangkap dan disalibkan, para murid bubar. Dari bangga dan penuh keyakinan, kini mereka berkecil hati. Dari orang-orang yang berani bercerita mengenai sang Guru, sekarang mereka menjadi orang yang takut dituduh pengacau dengan risiko ditangkap. Mereka juga dianggap menawarkan ajaran yang keliru oleh para simpatisan mereka dulu. Mereka kehilangan muka di hadapan kaum sendiri. Inilah situasi para murid.

MENGENANG PERKATAAN YESUS

Dalam keadaan itulah mereka teringat akan pesan-pesan Yesus pada perjamuan terakhir. Injil memang terjadi sebagai kumpulan kenangan bersama mengenai tindakan dan kata-kata sang Guru. Pada kesempatan itu ia berbicara mengenai Penolong yang akan diutusnya dari Bapa. Pengertian kunci di sini ialah "Penolong". Yunaninya ialah "parakleetos", arti harfiahnya ialah yang diseru, dipanggil, diminta agar datang menolong. Ungkapan ini sebenarnya kata biasa dalam bahasa Yunani. Orang datang menolong mereka yang kena musibah dengan memberi bantuan apa saja. Mulai dengan memberi pertolongan sebisanya sampai ke regu khusus yang menangani keadaan yang paling gawat. Juga pertolongan bisa berujud penghiburan untuk membesarkan hati, menumbuhkan harapan dan kekuatan. Apa saja yang dapat menopang orang yang tidak dapat mengatasi keadaan dengan kekuatan sendiri dan oleh karenanya membutuhkan pertolongan secepatnya. Itulah "parakleetos". Dalam keadaan bencana, kehadiran para penolong memang lebih terasa. Tapi dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya penolong ada di mana-mana. Boleh dikata, bakat alamiah manusia yang paling dasar ialah tumbuh menjadi orang yang bisa dimintai tolong orang lain. Bakat ini biasanya berkembang menjadi macam-macam pola tingkah laku "baik" di masyarakat.
Itulah latar pemakaian ungkapan "Penolong" dalam Yoh 15:27. Di situ Yesus mengatakan bahwa ia mengutus dia yang menanggapi seruan minta tolong tadi itu. Ditambahkannya bahwa Penolong itu berasal dari Bapa sendiri. Diutus berarti dikirim, seperti orang yang diutus menjalankan urusan tertentu. Itulah yang dimaksud Yesus dengan "Penolong yang kuutus". Tugasnya ialah menanggapi kebutuhan orang yang minta tolong apa saja. Dan Penolong ini "keluar dari Bapa". Artinya, pertolongan yang akan diterima orang yang berseru itu berasal dari Yang Maha Kuasa yang beperhatian sebagai bapak. Bagi orang zaman itu, cara berbicara seperti sarat muatan maknanya. Dulu orang Yahudi berseru minta tolong ketika mengalami penderitaan di Mesir. Dan Tuhan mendengar keluhan mereka dan turun untuk menolong mereka dan menuntun mereka ke tanah yang akan diberikan-Nya kepada mereka (lihat Kel 3:7-10; 6:5-7 Ul 26:5-9). Kekuatan seperti itulah yang dimaksud oleh Yesus sebagai "Penolong yang kuutus dari Bapa". Ia adalah Roh Kebenaran, yakni kekuatan yang benar, yang tepercaya, bukan yang bakal membawa ke tujuan lain

BERSAKSI?

Roh Kebenaran tadi akan menegaskan bahwa yang dikerjakan Yesus selama hidupnya itu benar-benar dari Bapa asalnya. Ia menjauhkan kekuatan yang jahat, menyembuhkan, menghibur yang kena kesusahan, mengajar, membimbing banyak orang. Semuanya itu untuk memperbaiki kemanusiaan. Bagaimana? Roh tidak membuat orang takjub dan takut. Ia datang ke dalam kehidupan para murid dan dari dalam diri mereka ia menegaskan bahwa semua yang dilakukan Yesus adalah karya ilahi sendiri. Itulah yang dimaksud dengan Penolong atau Roh Kebenaran yang "bersaksi tentang diriku".

Kekuatan ini mengatasi apa saja yang dirasa mencengkam dan tak bisa dihadapi sendiri. Tidak bergantung pada jenisnya, bisa berupa penindasan sosial dan religius seperti di Mesir dulu, bisa pula dirasa sebagai bencana alam, bisa pula dialami sebagai kekuatan-kekuatan yang tak tergambarkan tetapi yang selalu mengancam kehidupan. Inilah yang sering membuat orang merasa tak berdaya dan hanya bisa berdoa berseru minta tolong.

Para murid percaya bahwa sang Penolong sudah datang. Bagaimana penjelasannya? Ada dalam Yoh 15:26. Di situ mereka diminta menjadi saksi. Alasannya, mereka sejak semula sudah ada bersama dengan Yesus sendiri dan melihat karyanya. Kini mereka diminta melihat kembali semua itu sebagai karya ilahi dalam Roh Kebenaran yang datang kepada mereka. Kesaksian yang dimaksud jelas bukan sedia mati demi mempertahankan agama. Ini lain perkara. Dalam ayat-ayat Yohanes ini, kesaksian yang dimaksud ialah membiarkan sang Penolong yang ada dalam komunitas orang beriman leluasa bertindak. Inilah kekuatan yang bisa memperbaiki kemanusiaan yang sedang mengalami kejadian seburuk apapun. Para murid Yesus didampingi Sang Parakleetos yang siap dimintai tolong dan selalu ada di dekat. Kita juga. Pelbagai upaya pertolongan yang kita usahakan dapat makin kuat, makin ambil bagian dalam yang dikerjakan Yesus dan yang kini dilakukan bersama dengan kekuatan yang dikirimkannya dari atas sana.

Sang Penolong tadi membuat orang percaya bahwa yang dilakukan Yesus itu ialah karya ilahi. Inilah kesaksian sang Penolong. Murid-murid Yesus di masa kini pun ikut diminta menjadi saksi karya ilahi yang masih berlangsung. Juga di tengah-tengah orang yang paling membutuhkan penghiburan dan pertolongan.

CATATAN: HARI RAYA PENTAKOSTA DAN PERISTIWA Kis 2:1-11

Di kalangan umat Perjanjian Lama, Pentakosta (artinya "hari ke-50") dirayakan 7 minggu setelah panen gandum, seperti disebutkan dalam Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12. Perayaan ini juga disebut dalam hubungan dengan perayaan lain, lihat Kel 23:14-17; 34:22; Bil 28:26-31 dan 2Taw 8:13. Dalam perkembangan selanjutnya, hari "ke-50" ini dihitung dari tanggal 14 Nisan, yaitu Paskah Yahudi. Hari itu kemudian juga dipakai untuk memperingati turunnya Taurat kepada Musa. Di kalangan umat Kristen, peringatan "hari ke-50" ini terjadi 7 minggu setelah kebangkitan Yesus dan dirayakan sebagai hari turunnya Roh Kudus kepada para murid seperti digambarkan dalam Kis 2:1-11. Jadi perayaan 7 minggu setelah panen dari dunia Perjanjian Lama itu diterapkan dalam Perjanjian Baru pada panenan rohani yang kini mulai di kalangan para murid terdekat, kemudian di antara merena yang mendengarkan kesaksian mereka, dan akhirnya ke seluruh penjuru dunia.



Salam hangat,
A. Gianto

Sabtu, 30 Mei 2009, Hari Biasa Pekan VII Paskah

Sabtu, 30 Mei 2009
Hari Biasa Pekan VII Paskah

"Di mana pun berada, marilah mewartakan dan menumbuhkan warta Injil."


Doa Renungan

Allah Bapa yang kekal dan kuasa, Roh pembaharu hati umat beriman telah Kauutus agar hidup kami segar selalu, Roh hikmat dan pengertian telah menerangi akal budi kami agar kami menjadi bijak. Kini kuatkanlah kami agar selalu tabah dan siap menghadapi derita yang datang tak dapat disangka. Kami percaya dengan penyertaan dan perlindungan-Mu kami mampu mengatasi kesulitan dan kerapuhan. Seperti Santo Paulus, ajarilah kami untuk percaya bahwa justru dalam kelemahan kami nama-Mu akan dimuliakan. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kisah Para Rasul (28:16-20.30-31)


"Paulus tinggal di Roma memberitakan Kerajaan Allah."


16 Setelah tiba di Roma, Paulus yang dalam tahanan diperbolehkan tinggal dalam rumah sendiri bersama-sama seorang prajurit yang mengawalnya. 17 Tiga hari kemudian Paulus memanggil orang-orang terkemuka bangsa Yahudi dan setelah mereka berkumpul, Paulus berkata: "Saudara-saudara, meskipun aku tidak berbuat kesalahan terhadap bangsa kita atau terhadap adat istiadat nenek moyang kita, namun aku ditangkap di Yerusalem dan diserahkan kepada orang-orang Roma. 18 Setelah aku diperiksa, mereka bermaksud melepaskan aku, karena tidak terdapat suatu kesalahanpun padaku yang setimpal dengan hukuman mati. 19 Akan tetapi orang-orang Yahudi menentangnya dan karena itu terpaksalah aku naik banding kepada Kaisar, tetapi bukan dengan maksud untuk mengadukan bangsaku. 20 Itulah sebabnya aku meminta, supaya aku melihat kamu dan berbicara dengan kamu, sebab justru karena pengharapan Israellah aku diikat dengan belenggu ini." 30 Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. 31 Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.


Mazmur Tanggapan
Ref. Orang yang tulus akan memandang wajah-Mu, ya Tuhan
Ayat.
(Mzm 11:4.5.7)
1. Tuhan ada di dalam bait-Nya yang kudus; Tuhan, takhta-Nya di surga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia.
2. Tuhan menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia membenci orang yang mencintai kekerasan.
3. Sebab Tuhan adalah adil dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya.


Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (21:20-25)


"Dialah murid, yang telah menuliskan semuanya ini, dan kesaksiannya itu benar."


20 Setelah Yesus yang bangkit berkata kepada Petrus, "Ikutlah Aku," Petrus berpaling, dan melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: "Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?" 21 Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?" 22 Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku." 23 Maka tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu, bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus, bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan: "Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu." 24 Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar. 25 Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan


Bagaimana gema Tahun Santo Paulus yang telah dimulai pada tanggal 29 Juni 2008 dan akan berakhir 29 Juni 2009? Tentu pelbagai bentuk dan kegiatan pendalaman telah kita buat. Seluruh Gereja, umat dan pastor berupaya mengupas nilai-nilai rohani yang diperjuangkan oleh Santo Paulus yang dengan semangat besar mencari nilai-nilai yang relevan untuk hidup serta pastoral zaman ini.

Dalam bacaan pertama hari ini, Santo Paulus menunjukkan kegigihan hati serta ketetapan hidupnya untuk terus-menerus mewartakan Injil Tuhan. Keadaan ditawan dan dibelenggu di penjara tidak menyurutkan niatnya untuk mengajar dan mewartakan Injil karena pengharapannya akan hadirnya Kerajaan Allah yang menyelamatkan yang juga menjadi orang Israel.

Dalam banyak kesempatan doa dan pendalaman di lingkungan umat Katolik, diingatkan pula pentingnya kita menyadari pengharapan akan hidup kekal serta nilai-nilai kehidupan yang layak diperjuangkan. Agama jangan sampai kehilangan aspek mistik, karena kalau kehilangan aspek mistik, keringlah nilai-nilai rohani yang bisa dimasuki sampai ke relung kehidupan harian yang bisa menjadi kancah kehidupan dan tempat berenang menikmati kehidupan. "Karena pengharapan Israellah aku diikat dengan belenggu ini," jerit hati Santo Paulus. Kalau sekarang ini juga muncul aneka doa devosi yang menjadi tempat "berenang" bagi umat untuk mengalami nilai-nilai rohani kehidupan iman kekatolikan, kiranya kita tetap berharap bahwa umat Katolik tidak akan kehilangan oase segar dalam mengarungi samudra kehidupan sehari-hari.



Mgr. FX. Hadisumarta
Inspirasi Batin 2009



Photobucket

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id, jika Anda merasa diberkati dengan renungan ini, Anda dapat membantu kami dengan memberikan persembahan kasih. Donasi Anda dapat dikirimkan melalui QRIS klik link. Kami membutuhkan dukungan Anda untuk terus menghubungkan orang-orang dengan Kristus dan Gereja. Tuhan memberkati

renunganpagi.id 2024 -

Privacy Policy