Seri Liturgi: GERBANG ITU AMBANG

Seri Liturgi
GERBANG ITU AMBANG

Syalom aleikhem.
Tentang peribadatan, kitab Mazmur menyebut cukup banyak kata “gerbang”. Salah satunya Mzm. 100:4: “Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!” Memang, gerbang penting dalam peribadatan. Gerbang itu ambang, penanda, pembatas “ilahi” dan “manusiawi”.

Kata “gerbang” di sini saya maknai “pintu (utama) gedung gereja”. Pintu gereja adalah penanda, adalah batas dunia profan dan dunia sakral. Karena itu, begitu masuk pintu gereja, anda masuk dunia sakral. Gedung gereja, bagi Gereja Katolik, selalu ruang sakral. Tak bisa kita sembarangan di dalamnya. Ada norma dan tata cara agar kita berkenan kepada-Nya.

Apa konkretnya yang perlu dibuat ketika anda sudah masuk pintu gerbang, sudah berada di dalam gedung gereja sebelum Misa (atau peribadatan lain)? Lakukanlah segala sesuatu yang “sakral”. Buka ponsel, contohnya, dan menilik medsos bukan kegiatan sakral. Bergosip apalagi. Mengobrol kian kemari pun bukan. Ongkang kaki, menaikkannya ke kursi, wah bukan itu. Lalu apa?

Kegiatan sakral di antaranya: membaca nas Alkitab (yang akan dibacakan nanti waktu Misa), berdoa pribadi, memandangi salib Kristus dan patung-patung kudus. Pesan inti catatan ini: begitu masuk pintu gereja, tinggalkan kegiatan “duniawi sehari-hari”. Amin.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katkiter