Seri Alkitab: MAIN HAKIM SENDIRI

Seri Alkitab
MAIN HAKIM SENDIRI
Bukti Alkitabiah
Bagian I

Syalom aleikhem.
Ada saja orang yang berpendapat baca Alkitab itu sulit. Apakah sulit? Tidak juga. Sebaliknya, ada saja orang yang berpendapat baca Alkitab itu mudah. Apakah mudah? Tak mudah juga. Alkitab itu buku dari zaman kuno, ditulis oleh manusia-manusia masa lalu dalam tuntunan Roh Allah. Agar tuntunan itu dipahami oleh para penulis dari masa lalu itu, Allah menyesuaikan diri sesuai dengan bahasa dan budaya insan jadul.

Karena ke-jadul-an, Alkitab tak begitu mudah dipahami – meski juga tak sulit-sulit amat. Meski tak mudah dipahami, ada saja orang-orang yang menggampangkan begitu saja perihal membaca Alkitab. Ada orang-orang dari sekte-sekte tertentu yang berpendapat bahwa setiap orang pasti bisa baca Alkitab – dalam arti: berikut memahami maknanya – karena dituntun langsung oleh Roh Kudus. Menurut orang-orang aliran itu, setiap orang pasti mampu mengartikan nas dalam Alkitab karena setiap orang dinaungi terang Roh Kudus.

Apa memang begitu? Bahwa setiap orang dinaungi Roh Kudus itu benar. Namun, apa karya Roh Kudus ditangkap secara sama oleh setiap orang? Tentu saja tidak. Maka, pengandaian “bimbingan Roh Kudus” tak dapat diterima begitu saja. Roh Kudus yang sama (sic!) punya dampak yang berbeda bagi orang yang berbeda (dalam hal pikiran, perasaan, keimanan, bahasa, budaya, dsb).

Tulisan ini bukan mau menghambat anda baca Alkitab, juga bukan mau menakut-nakuti anda. Bukan. Tulisan ini mau menggarisbawahi ajaran Gereja Kristen yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik (nama tenarnya: “Gereja Katolik”) bahwa diperlukan otoritas pengajar untuk membaca Alkitab. Tak bisa setiap orang “main hakim sendiri” atas ayat-ayat Alkitab. Istilah “main hakim sendiri” bermakna “baca sendiri lalu menafsir dan mengartikan sendiri bahkan mengajarkan tafsirannya sebagai kebenaran”.

Alkitab mengajukan kesaksian bahwa orang tak bisa sewenang-wenang menafsirkan isi Alkitab semaunya sendiri, sekemampuan sendiri, sesuai pikiran dan ilmunya sendiri. Simaklah Kis. 8:30-31: “Filipus bergegas ke situ dan mendengar pejabat istana itu sedang membaca kitab Nabi Yesaya. Kata Filipus, ‘Mengertikah Tuan apa yang Tuan baca itu?’ Jawabnya, ‘Bagaimana aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?’ Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya.”

Apa yang selanjutnya berlangsung? Kis 8:34-35: “Lalu kata pejabat istana itu kepada Filipus, ‘Aku bertanya kepadamu, tentang siapa nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?’ Filipus pun mulai berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya.” Si pejabat bukan mengartikan sendiri Kitab Yesaya yang dibacanya, melainkan ia menyandarkan diri pada uraian, yaitu tafsiran dan penjelasan Rasul Filipus.

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katkiter