Senin, 01 Januari 2018 Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah

Senin, 01 Januari 2018
Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah (Hari Kedelapan dalam Oktaf Natal)
  
“Bunda Maria, Bunda Allah…, bait Allah yang kudus yang di dalamnya Tuhan sendiri dikandung… Sebab jika Tuhan Yesus adalah Allah, bagaimanakah mungkin Bunda Maria yang mengandung-Nya tidak disebut sebagai Bunda Allah?” (St. Sirilus dari Alexandria)
   

Antifon Pembuka (bdk. Yes 9:2.6; Luk 1:33)

Hari ini kita diliputi terang karena Tuhan telah lahir bagi kita. Nama-Nya: Penasihat Ajaib, Allah Perkasa, Raja Damai, Bapa Kekal. Pemerintahan-Nya takkan berkesudahan.

Today a light will shine upon us, for the Lord is born for us; and he will be called Wondrous God, Prince of peace, Father of future ages: and his reign will be without end.
 
Lux fulgebit hodie super nos: quia natus est nobis Dominus: et vocabitur Admirabilis, Deus, Principes pacis, Pater futuri sæculi: cuius regni non erit finis.


atau

Salam Bunda yang suci, Bunda mulia Penguasa abadi, yang memerintah surga dan bumi.

Hail, Holy Mother, who gave birth to the King, who rules heaven and earth for ever.

Salve sancta Parens, enixa puerpera Regem, qui cælum terramque regit in sæcula sæculorum.
 
Pada Misa ini ada Madah Kemuliaan dan Syahadat
  
Doa Pembuka

Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, Engkau telah menganugerahi umat manusia keselamatan kekal dengan perantaraan Santa Maria, Perawan dan Bunda. Kami mohon, semoga kami pun Kauperkenankan menikmati doa dan perlindungannya, sebab ia telah melahirkan bagi kami Putra-Mu, pemberi hidup, yaitu Yesus Kristus, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama Bapa dan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Bilangan (6:22-27)
   
"Mereka harus meletakkan nama-Ku atas orang Israel: maka Aku akan memberkati mereka."
      
Sekali peristiwa Tuhan berfirman kepada Musa, "Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 2/2 PS 809
Ref. Berbelaskasihlah Tuhan dan adil Allah kami adalah rahim.
Ayat. (Mzm 67:2-3.5.6.8; 2/4)
1. Kiranya Allah mengasihani dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya. Kiranya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.
2. Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku di atas bumi.
3. Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu. Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takwa kepada-Nya!

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia (4:4-7)
   
"Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan."
    
Saudara-saudara, setelah genap waktunya, Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli waris-ahli waris, oleh karena Allah.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4, kanon, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Ibr 1:1-2)
Dahulu Allah berkata kepada leluhur kita dengan perantaraan para nabi; kini Ia bersabda kepada kita dengan perantaraan Putra-Nya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (2:16-21)
  
"Mereka mendapati Maria, Yusuf, dan si Bayi. Pada hari kedelapan Ia diberi nama Yesus."
     
Setelah mendengar berita kelahiran penyelamat dunia, para gembala cepat-cepat berangkat ke Betlehem, dan mendampati Maria dan Yusuf serta Bayi yang terbaring di dalam palungan. Ketika melihat Bayi itu, para gembala memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hati dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. Ketika genap delapan hari umurnya, Anak itu disunatkan, dan Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Barangsiapa tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, maka ia adalah orang asing bagi Allah. Sebab Bunda Maria bukan semata-mata saluran, melainkan Kristus sungguh-sungguh terbentuk di dalam rahim Maria secara ilahi (karena tanpa campur tangan manusia) namun juga manusiawi (karena mengikuti hukum alam manusia). --- St. Gregorius dari Nazianze
 
Renungan

SELAMAT TAHUN BARU! Selamat memasuki tahun 2018! Semoga sukacita dan harapan baru menjadi semangat kita pada awal tahun baru ini. Barangkali di antara kita masih ada yang galau dengan pengalaman kurang baik di tahun lalu, tetapi setiap orang beriman tentu tidak pernah kehabisan harapan baru. Betapa pentingnya memulai dengan baik segala sesuatunya, seperti pepatah Inggris yang berbunyi: "Sebuah awal yang baik membuat suatu akhir yang baik." 
 
  Awal baik manakah yang kita miliki hari ini? Inilah awal baik kita hari ini: marilah merayakan Ekaristi pada Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah. Setiap tanggal 1 Januari sejak tahun 1931, pas Tahun Baru begini, Gereja merayakan Santa Perawan Maria sebagai Bunda Allah. Perayaan ini ditetapkan oleh Paus Pius XI untuk memperingati 1500 tahun Gereja mengajarkan Santa Perawan Maria sebagai Bunda Allah saat Konsili Efesus tahun 431. Pemilihan tanggal ini juga tidak kebetulan, karena Gereja bermaksud untuk menjalani seluruh tahun baru ini bersama Bunda Maria agar dapat menemukan dan mengalami Tuhan Yesus Kristus. Itulah sebabnya, dalam Doa Pembuka Misa hari ini disebutkan: "Kami mohon semoga kami merasakan pertolongan Bunda Maria karena melalui dia kami diperkenankan menerima Putra-Mu, sumber kehidupan kami." Amat jelas dalam Injil hari ini, bagaimana para gembala dan semua orang bergembira, memuji dan memuliakan Allah karena dapat melihat dan menjumpai Kanak-kanak Yesus yang terbaring di atas palungan, dan semua itu hanya mungkin karena Santa Perawan Maria rela menjadi Bunda Tuhan Yesus, yakni mengandung dan melahirkan Dia. 
 
 Dua hal dapat dicatat: pertama, seluruh pusat cerita dalam Injil adalah Yesus yang terbaring di atas palungan. Tidak terlalu penting bagi penginjil, itu gua atau di kandang, tetapi palungan menjadi yang lebih penting karena adalah lambang altar. Itulah simbolik Ekaristi, sebagaimana Kanak-kanak Yesus ditemukan di atas palungan oleh para gembala dan orang-orang, begitu pula Tuhan Yesus yang sama kita temukan di atas altar, itulah Perayaan Ekaristi. Kedua, mata para gembala dapat melihat Tuhan, mulut dapat memuji dan memuliakan Allah, kaki dapat bersujud dan menyembah Tuhan karena orang-orang ini bebas kepentingan, bebas dari ambisi, bebas dari keinginan hedonis dan konsumeris. Inilah kesederhanaan ati yang juga mestinya mengisi awal tahun baru kita kali ini. Sukacita dan harapan sejati memang dimiliki orang-orang yang sederhana dan rendah hati; dan merekalah yang akan bersukacita pada akhir karena dapat melihat dan mengalami Tuhan. (EM/INSPIRASI BATIN 2018)

Antifon Komuni (Ibr 13:8)

Yesus Kristus tetap sama: dahulu, sekarang dan selama-lamanya.

Jesus Christ is the same yesterday, today, and for ever.