Minggu, 23 Agustus 2015
Hari Minggu Biasa XXI
   
Yos. 24:1-2a,15-17,18b; Mzm. 34:2-3,16-17,18-19,20-21,22-23; Ef. 5:21-32; Yoh 6:60-69.

"Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal"
  
Orangtua yang baik, bagitu pula seorang guru yang baik, yang tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik, tentunya tidak hanya menyampaikan hal-hal yang mudah dan menyenangkan bagi anak-anak atau murid-murid-Nya. Ada kalanya, dia harus menyampaikan sesuatu yang sulit. Tidak hanya sulit dimengerti tetapi juga sulit untuk diaplikasikan atau dilaksanakan. Tidak jarang pula, untuk membuat anak atau muridnya sungguh memperhatikan, ia menggunakan metode yang agak keras, termasuk intonasi suaranya. Apalagi kalau hal yang harus disampaikan tersebut merupakan sesuatu yang penting sehingga mau tidak mau, anak atau muridnya harus mengerti dan bisa bisa menerapkan atau melaksanakannya, sering dia harus mengulang sampai beberapa kali. Biasanya, pada pengulangan yang kedua, ketiga, apalagi yang keempat dan seterusnya, nada suara dan gestur tubuh sudah lain. Bagi anak yang ingin maju dan berkualitas, hal ini justru memacu untuk semakin memperhatikan, sementara bagi yang tidak ingin maju tentu saja malah mengabaikan, bahkan meninggakan kelas. Hal yang sama dipakai oleh Yesus dalam mengajar dan mendidik murid-murid-Nya. Ia tidak hanya memberi mereka makan dengan melipat-gandakan roti tetapi juga menuntut mereka untuk mengerti apa makna sesungguhnya dari penggandaan roti yang telah Dia lakukan sampai pada pengertian dan pengakuan (iman) mengenai siapakah Dia. Bagi yang hanya ingin cari enak (dapat roti gratis), tentu tuntutan Yesus itu berat sehingga mereka memilih mundur. Namun, bagi para murid yang yakin bahwa dalam diri Yesus, dalam sabda dan karya-Nya, ada hidup sejati yang dialirkan dan dibagikan, maka sesulit apa pun, mereka tetap mengikuti-Nya. Bahkan, ketika kelak para murid ini harus menyerahkan nyawa mereka demi iman kepada Yesus, mereka pun pantang mundur. Semoga, kita pun menjadi murid-murid Kristus di zaman sekarang yang mempunyai kualitas semacam itu. Dengan mengikuti Yesus, tentu ada banyak rahmat dan kemudahan yang kita terima. Namun, ada kalanya kita mengalami sesuatu yang sulit, pengalaman pahit, ujian hidup, penderitaan, dll. Di saat-saat semacam itu, kualitas iman kita sungguh diuji. Apakah kita tetap setia dan percaya kepada Tuhan? Atau kita meragukan Dia, marah kepada-Nya dan bahkan meninggalkan-Nya?

Doa: Tuhan, berilah kami iman yang mendalam dan tangguh agar kami tidak mudah goyah ketika berhadapan dengan kesulitan dan penderitaan. Amin. -agawpr.net- (Rm. Ag. Agus Widodo, Pr)

0 komentar:

Posting Komentar

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting yang menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal ini Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak, dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”
-------------------------------------------------------------------

--KOMENTAR DINONAKTIFKAN--
Mari budayakan berkomentar positif, setiap komentar yang bermuatan negatif, menyinggung SARA, spam, menggunakan bahasa kurang sopan, memicu pertikaian, atau tidak berhubungan dengan topik terkait tidak akan ditayangkan/dihapus.

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.