Kobus: 03 Februari 2013






silahkan klik gambar untuk memperbesar

Minggu, 03 Februari 2013 Hari Minggu Biasa IV (C)

Minggu, 03 Februari 2013
Hari Minggu Biasa IV (C)

Iman itu pasti, lebih pasti dari setiap pengertian manusiawi, karena ia berdasarkan Sabda Allah yang tidak dapat menipu. Memang kebenaran-kebenaran yang diwahyukan dapat kelihatan gelap bagi budi dan pengalaman manusiawi, tetapi "kepastian melalui cahaya ilahi itu lebih besar daripada kepastian melalui cahaya akal budi alamiah" (Tomas Aquino., s.th. 2-2,171,5 obj.3). "Ribuan kesukar-sulitan tidak sama dengan kebimbangan" (J.H. Newman, apol.). ---- Katekismus Gereja Katolik, 157

Antifon Pembuka (Mzm 105:47)

Selamatkanlah kami, ya Tuhan Allah kami, dan kumpulkanlah kami dari antara bangsa-bangsa supaya kami bersyukur kepada nama-Mu yang kudus dan bermegah-megah dalam puji-pujian kepada-Mu.

Doa Pagi


Allah Bapa yang Mahakuasa dan kekal, Engkau memanggil kami untuk percaya kepada-Mu sepenuhnya. Tetapi setiap kali ternyata kami menjauhkan diri dari pada-Mu. Patahkanlah ketegaran hati kami, dan semangatilah kami dengan kehadiran-Mu, sehingga kami selalu mengarahkan kepada-Mu dan melaksanakan sabda-Mu yang merupakan undangan bagi semua orang untuk memasuki kerajaan-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

  
Bacaan dari Kitab Yeremia (1:4-5.17-19)

"Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."
 
Pada masa Raja Yosia turunlah firman Tuhan kepadaku, Yeremia, sebagai berikut, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau. Dan sebelum engkau dilahirkan, Aku telah menguduskan engkau; Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Maka, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka, segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka! Mengenai Aku, sungguh, pada hari ini Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imamnya dan rakyat negeri ini. Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau. Sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau.”
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = f, 2/4, PS 829
Ref. Aku hendak memuji nama-Mu, ya Tuhan, selama-lamanya.
Ayat. (Mzm 71:1-2.3-4a.5-6ab.15ab.17)

1. Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu. Lepaskanlah dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu. Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku.
2. Jadilah bagiku gunung batu tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan diri; sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku, ya Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik, dari cengkeram orang-orang lalim dan kejam.
3. Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, Engkaulah kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah. Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkaulah yang telah mengeluarkan aku dari perut ibuku.
4. Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan sepanjang hari mengisahkan keselamatan yang datang dari pada-Mu, ya Allah Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang akan memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus 12:31 – 13:13 (Singkat: 13:4-13)


"Sekarang tinggal iman, harapan dan kasih; namun yang paling besar di antaranya ialah kasih."
 
Saudara-saudara, berusahalah memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi. Sekalipun aku dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan malaikat, tetapi jika tidak mempunyai kasih, aku seperti gong yang bergaung atau canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia serta memiliki seluruh pengetahuan; sekalipun aku memiliki iman sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. (Kasih itu sabar, murah hati dan tidak cemburu. Kasih itu tidak memegahkan diri, tidak sombong dan tidak bertindak kurang sopan. Kasih itu tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak cepat marah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih tidak bersukacita atas kelaliman, tetapi atas kebenaran. Kasih menutupi segala sesuatu, percaya akan segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan. Nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, dan pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap, dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, hilanglah yang tidak sempurna itu. Ketika masih kanak-kanak, aku berbicara seperti kanak-kanak, merasa seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak pula. Tetapi sekarang, setelah menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Sekarang kita melihat gambaran samara-samar seperti dalam cermin, tetapi nanti dari muka ke muka. Sekarang aku mengenal secara tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, sebagaimana aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini: iman, harapan, dan kasih; dan yang paling besar di antaranya ialah kasih).
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, PS 963
Ref. Alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya.
Ayat. (Luk 4:18-19)
Tuhan mengutus Aku memaklumkan Injil kepada orang yang hina dina, dan mewartakan pembebasan kepada orang tawanan.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (4:21-30)

 
"Seperti halnya Elia dan Elisa, Yesus diutus bukan hanya kepada orang-orang Yahudi."
 
Sekali peristiwa Yesus mengajar orang banyak di rumah ibadat di kota asalnya, kata-Nya, “Pada hari ini genaplah nas Kitab Suci pada waktu kamu mendengarnya.” Mereka heran akan kata-kata indah yang diucapkan-Nya.Lalu mereka berkata, “Bukankah Dia ini anak Yusuf?” Maka berkatalah Yesus kepada mereka, “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai Tabib, sembuhkanlah dirimu sendiri! Perbuatlah di sini, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar telah terjadi di Kapernaum!” Yesus berkata lagi, “Aku berkata kepadamu: Sungguh, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak wanita janda di Israel, ketika langit tertutup selama tiga tahun enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel, tetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain Naaman, orang Siria itu.” Mendengar itu sangat marahlah semua orang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota, dan membawa Dia ke tebing gunung tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus. 


Renungan

IMAN DAN KASIH


Yesus mengajar di kampung halaman-Nya. Banyak orang yang setuju dengan pengajaran-Nya dan heran dengan kata-kata indah yang diucapkan-Nya. Mereka mengenal siapa Yesus dalam keseharian-Nya: Yesus, Anak Yusuf, seorang tukang kayu di kampung-Nya. Mereka juga mendengar tentang apa yang telah dilakukan Yesus di luar kampung-Nya. Yesus tahu bahwa mereka juga mengharapkan agar Ia melakukan seperti apa yang dilakukan di luar kampung-Nya. Mereka ingin Yesus melakukan mukjizat juga di kampung-Nya.

Yesus tahu keinginan mereka yang demam dengan mukjizat dan mengatakan bahwa “sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya”. Yesus memberi contoh nabi Elia dan Elisa yang diutus Tuhan bukan kepada bangsanya tetapi kepada orang-orang di luar bangsa Israel. Mendengar kata-kata Yesus, mereka menjadi marah. Kemudian mereka menghalau Yesus ke luar kota dan membawa-Nya ke tebing gunung untuk melemparkan-Nya dari tebing itu. Mungkin mereka berpikir, Tuhan nanti akan menopang-Nya. Namun, Yesus lolos dari mereka. Mereka marah mungkin karena terganggu dengan kata-kata Yesus, tetapi mereka marah mungkin juga karena kecewa, apa yang mereka inginkan dari Yesus tidak terjadi. Yesus tidak membuat mukjizat di kampung-Nya sendiri. Ia tidak menjumpai iman di sana.

Sabda Tuhan, perlu ditanggapi dengan iman, bukan hanya kekaguman akan kata-kata indah seperti kekaguman orang akan kata-kata indah yang diucapkan Yesus. Iman adalah keyakinan sungguh akan kekuatan Sabda yang mampu mengubah hati orang yang terbuka, mau mendengarkan dan menghayatinya dalam kehidupan. Iman harus nampak dalam sikap hidup sehari-hari yang dipenuhi dengan kasih sejati seperti yang kita dengarkan dalam bacaan kedua (1Kor 13:4-13).

Paulus menulis bahwa tidak ada faedahnya orang memiliki kemampuan berkata-kata, karunia bernubuat, iman yang mampu memindahkan gunung, kebaikan dan sebagainya kalau tidak mempunyai kasih. Kasih menjadi buah dari iman yang sejati, iman yang tetap selalu sedia terbuka mendengarkan Sabda Tuhan dan bertobat. Orang beriman harus memiliki kasih, kasih yang sabar, murah hati, tidak iri hati dan tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1Kor 13:4-7).

Sabda Tuhan yang kita dengarkan hari ini mengajarkan dua hal kepada kita. Pertama, seorang pewarta Sabda Tuhan harus punya keberanian dan percaya akan kekuatan Sabda Allah. Orang beriman mesti dengan rendah hati dan berani mewartakan Sabda Tuhan sambil terus-menerus mendengarkan Sabda Tuhan agar dirinya juga berubah. Kedua, seorang pendengar Sabda Tuhan, jangan hanya kagum akan kehebatan kata-kata seorang pewarta tetapi harus juga bertobat dan berusaha hidup sesuai dengan Sabda Tuhan yang nampak dalam hidup yang penuh kasih.


Iman adalah satu anugerah rahmat yang Allah berikan kepada manusia. Kita dapat kehilangan anugerah yang tak ternilai itu. Santo Paulus memperingatkan Timotius mengenai hal itu: "Hendaklah engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni. Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka" (1 Tim 1:18-19). Supaya dapat hidup dalam iman, dapat tumbuh dan dapat bertahan sampai akhir, kita harus memupuknya dengan Sabda Allah dan minta kepada Tuhan supaya menumbuhkan iman itu Bdk. Mrk. 9:24; Luk 17:5; 22:32.. Ia harus "bekerja oleh kasih" (Gal 5:6) Bdk. Yak 2:14-26., ditopang oleh pengharapan Bdk. Rm 15:13. dan berakar dalam iman Gereja. --- Katekismus Gereja Katolik, 162

RUAH

Minggu Biasa IV/C – 3 Februari 2013



Minggu Biasa IV/C – 3 Februari 2013
Yer 1:4-5.17-19; Kor 12:31-13:13; Luk 4:21-30

Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk merenungkan dan mengimani bahwa warta dan karya keselamatan yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus itu berlaku universal, untuk semua orang. Warta dan karya keselamatan itu sebelumnya telah dirintis oleh para nabi, salah satunya nabi Yeremia (bacaan I), kemudian digenapi atau disempurnakan oleh Tuhan kita Yesus Kristus (Injil), dan saat ini harus kita lanjutkan keberlangsungannya sampai selama-lamanya.

Oleh karena itu, sebagaimana Yeremia dipanggil untuk menjadi nabi supaya menyampaikan sabda dan kehendak Tuhan kepada bangsa-bangsa, kita pun juga dipanggil untuk menjadi nabi-nabi zaman sekarang. Setidaknya ada 3 (tiga) tugas pokok nabi, yaitu: meneguhkan, mengkritik, dan menghibur. Kalau kita melihat segala sesuatunya sudah berjalan dengan baik dan benar, maka tugas kita adalah meneguhkan supaya apa yang baik dan benar itu dapat bertahan, syukur bisa semakin berkembang, baik dalam kuantitas maupun kualitas. Namun, kalau yang terjadi itu melenceng dari prinsip kebaikan dan kebenaran, maka kita wajib menyampaikan kritik yang membangun demi terciptanya kebaikan bersama. Nah, kalau kita melihat terjadinya kesulitan, penderitaan, masalah, bencana, kesedihan, dll, kita harus tampil untuk memberikan penghiburan.

Menjalankan tri-tugas kenabian tersebut tidak selalu mudah seperti yang dialami Yeremia. Pelaksanaan tugas kenabian itu mengandung berbagai macam resiko, tantangan, kesulitan, dan penolakan. Untuk itu, seorang nabi harus siap berkorban, baik secara fisik maupun psikis. Kita tidak boleh takut dan gentar (Yer 1:17b). Sebab, Tuhan sungguh mengenal kita (Yer 1:5). Ia tidak mungkin memberikan tantangan dan tuntutan yang tidak mampu kita tanggung. Tuhan juga telah menguduskan dan menetapkan kita (Yer 1:5). Kalau kita harus menghadapi kesulitan dan tantangan, bahkan bahaya, Tuhan berjanji, “Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau” (Yer 1:19)

Penolakan, cibiran, dan kata-kata sinis yang merendahkan dan meremehkan ternyata juga dialami oleh Yesus sendiri. Hal ini tampak jelas dalam bacaan Injil hari ini. Judul yang diberikan dalam Alkitab kita untuk perikup ini (Luk 4:16-30, ayat 16-21 telah kita renungkan Minggu lalu) adalah “Yesus ditolak di Nazaret”. Dalam Injil Markus dan Mateus, perikup ini juga diberi judul yang sama. Hal ini menegaskan bahwa Yesus sendiri dalam melaksanakan misi penyelamatan-Nya dan dalam menggenapi Sabda dan Kehendak Allah ternyata mengalami penolakan, tidak diterima dan tidak dihargai.

Menghadapi penolakan dan kata-kata sinis yang merendahkan dan meremehkan dari orang-orang Nazaret tersebut, Yesus memang merasa kecewa dan heran. Namun Ia tidak lantas marah dan emosi. Yesus hanya menyampaikan kata-kata kritikan yang pedas dan tajam, sesuai dengan tugas-Nya sebagai nabi untuk mengkritik. Ternyata, kritikan-Nya itu tidak membuka hati mereka tetapi justru membuat mereka marah. “Mereka bangkit lalu menghalau Yesus ke luar kota, dan membawa Dia ke tebing gunung tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu” (Luk 4:29). Semakin jelaslah penolakan terhadap Yesus. Bahkan, mereka tidak hanya menolak, tetapi mengusir Yesus dan bermaksud untuk membunuh-Nya dengan melemparkan-Nya dari atas tebing.

Kita tahu bahwa Yesus adalah orang yang penuh kuasa. Pasti, Ia mampu untuk melawan orang-orang yang menolak-Nya itu. Namun, Ia tidak mau melakukan. Justru, “Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka lalu pergi” (Luk 4:30). Sikap dan tindakan Yesus ini menegaskan bahwa penolakan dan kemarahan tidak boleh dilawan dengan kemarahan; kekerasan tidak boleh dilawan dengan kekerasan. Ia memilih pergi, karena konflik yang terjadi sudah bukan lagi menggunakan akal tetapi okol. Dengan pergi ke tempat lain, Yesus masih mempunyai harapan bahwa di tempat lain Ia akan diterima dan karya-Nya akan semakin berkembang. Dan betul, itulah yang terjadi. Di Kapernaum dan kota-kota yang lain, Ia diterima (Luk 4:31-44). Bebarapa orang mulai mengikuti-Nya dan semakin lama semakin banyak (Luk 5 dst).

Satu pertanyaan dapat kita ajukan: Mengapa, Yeremia dan Yesus tetap setia sampai tuntas dalam melaksanakan tugas perutusan-Nya meskipun mengalami banyak tantangan, kesulitan, bahaya, penderitaan, bahkan maut? Jawabannya ada pada bacaan II. Mereka sungguh digerakkan dan dikobarkan oleh semangat kasih. Karena Yesus sangat mengasihi kita, maka Ia rela berkorban sampai sehabis-habisnya untuk kita. Demikian pula hendaknya kita. Semoga, semangat kasih selalu berkobar dalam diri kita sehingga kita rela melalukan pengorbanan apa pun untuk Tuhan, orang lain dan hal-hal yang dikasihi. Kasih akan membuat kita tidak takut menghadapi aneka tantangan, kesulitan dan bahaya. Kasih juga akan membuat kita tidak mutung ketika menghadapi penolakan, cibiran, dan tanggapan sinis seperti yang dialami Yesus. Kasih akan membuat kita maju terus dalam tugas perutusan dan karya pelayanan kita, apa pun resikonya.

Ag. Agus Widodo, Pr