Berbagi Senyuman :: Sharing Pelayanan Pastor Felix Supranto, SS.CC


“Betapa indahnya sebuah senyuman di dunia ini ?” kataku pada diriku sendiri. Senyuman sudah menjadi barang langka di dunia yang banyak beban. Banyak orang pelit tersenyum, padahal tersenyum itu tidak mengeluarkan biaya. Sudah gratis, senyuman menyehatkan jiwa. Senyuman membuat wajah enak dipandang dan yang memandangnya pun ringan bebannya.

Di malam yang sunyi aku berburu senyuman. Pada malam itu, aku tidak mempunyai kesempatan untuk memejamkan mataku walaupun hanya sekejap. Ketika kebanyakan orang sedang menikmati mimpi malam, aku harus menyusuri Jakarta-Pusat untuk memberikan Sakramen Perminyakan Suci kepada seorang pemuda lajang yang sakit keras. Dalam perjalanan pulang, seorang anggota Persekutuan Doa Karismatik menghubungi aku lewat handphone-ku agar aku mengurapi dengan minyak suci kepada seorang bapak yang sedang menghadapi akhir hayatnya di sebuah rumah sakit di Serpong. Prinsipku adalah handphone-ku ada agar umat bisa menghubungi aku kapan saja, khususnya untuk pelayanan orang-orang sakit. Kebahagiaan spiritual memenuhi diriku karena bisa melaksanakan tugas imamatku untuk menghadirkan Kristus kepada orang-orang sakit di tengah malam. Tidak lama kemudian kebahagiaan itu berubah menjadi kesedihan. Aku mendapatkan kabar duka cita bahwa kedua orang yang baru saja aku urapi dengan minyak suci sudah menghadap Tuhan. Senyumku tiba-tiba hilang ditelan duka. Perasaanku tenggelam dalam duka orang-orang yang baru saja ditinggalkan oleh anggota keluarganya. Aku juga mulai takut disebut “imam pencabut nyawa”.

Esok harinya seseorang menginformasikan kepadaku bahwa seorang nenek memintaku untuk mendoakannya karena keadaannya sudah gawat. Iblis ‘keraguan’ mulai menggodaku: “Jangan-jangan, nenek itu akan meninggal dunia seperti dua orang sebelumnya ketika aku mengunjunginya”. Ketika masuk ke kamarnya, aku kaget ternyata nenek itu tidak terbaring lemah dengan nafas satu dua yang keluar dari hidungnya. Nenek itu duduk di tempat tidurnya sedang mendaraskan doa rosario. Nenek itu enam bulan sebelumnya menjalani operasi jantung. Biasanya orang yang mengalami sakit seperti ini sering gelisah dan banyak keluh-kesah. Nenek ini tampil beda. Ia tidak menampilkan rasa sakitnya. Ia selalu menebarkan senyuman manisnya. Setelah menerima komuni suci, senyumannya semakin menawan: “Romo, aku hari ini bahagia sekali. Tuhan datang kepadaku. Kebahagiaanku akan menambah umurku walaupun sakit jantung mengiringi hidupku”. Nenek ini sudah lama tidak mendapatkan kunjungan imam. Kunjungan imam dengan Hosti merupakan kerinduannya sebagai seorang aktivis gerejani di masanya yang sehat. Sejak itu ia selalu mengucapkan “selamat malam’ kepadaku melalui sms. Itulah yang mengharukan dan meneguhkan pelayananku. Yang teringat selalu dibenakku adalah wajahnya yang memancarkan sinar sukacita.

Aku harus tersenyum setiap saat. Tersenyum merupakan ungkapan pengharapan. Orang berpengharapan senantiasa tersenyum untuk melupakan masalahnya. Masalahnya telah dilupakannya karena yakin bahwa Tuhan akan mengangkatnya. Orang yang pesimis lupa tersenyum karena mengikatkan diri pada masalahnya. Mukanya menjadi jutek dan bibirnya manyun yang bisa membuat orang muak melihatnya. Wajah tersenyum menarik hati banyak orang seperti gula mengundang datangnya semut-semut. Senyuman akan mengubah dunia. Kebahagiaan dunia tergantung pada senyuman. Dunia bagaikan sebuah cermin dihadapan Anda. Tersenyumlah di hadapannya, dan ia akan membalas senyuman Anda. Tersenyum mengubah kekurangan menjadi keindahan. Senyuman membuat nasi bungkus terasa lezat. Senyuman akan melenyapkan penyakit yang menggerogoti raga: “Hati yang bergembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” (Amsal 17:22). Tersenyumlah senantiasa, maka Tuhan Yesus yang diwartakan akan didatangi banyak orang. Tanpa senyuman, pewartaan akan sia-sia karena akan diabaikan oleh mereka. Ingatlah, tersenyum tidak merugikan, tetapi mendatangkan berkat ! Tuhan memberkati.

Bacaan Harian 03 - 09 Oktober 2011


Senin, 03 Oktober: Hari Biasa Pekan XXVII (H).
Yun 1:1-7 – 2:10; MT Yun 2:2-5.8; Luk 10:25-37.

Allah adalah murah hati. Seluruh hidup kita dengan segala aspeknya adalah karena kemurahan hati-Nya. Ia juga menghendaki kita hidup dalam kemurahan hati yang telah Ia wariskan itu. Maka, tengoklah sekeliling, mungkin di sana ada orang-orang yang membutuhkan kemurahan hati kita.

Selasa, 04 Oktober : Pesta St. Fransiskus dari Assisi (P).
Yun 3:1-10 atau Gal 6:14-18; Mzm 130:1-4ab.78; Luk 10:38-42.

Ada banyak cara melayani Tuhan sesuai dengan talenta dan anugerah yang kita miliki. Yang terpenting adalah melakukannya dengan sepenuh hati. Jadi, tidak perlu memaksa diri untuk melakukan berbagai pelayanan seperti orang lain; tidak perlu juga menuntut orang lain untuk melakukan seperti yang kita lakukan.

Rabu, 05 Oktober : Hari Biasa Pekan XXVII (H).
Yun 4:1-11; Mzm 86:3-6.9-10; Luk 11:1-4.

Doa Bapa Kami adalah doa yang begitu indah. Daraskan doa itu dengan perlahan dan penuh penghayatan. Lakukan berulang-ulang, maka kita akan mengalami rahmat yang mengubah ’hidup’ kita. Satu hal pasti, ada sukacita yang penuh. Cobalah!

Kamis, 06 Oktober : Hari Biasa Pekan XXVII (H).
Mal 3:13 – 4:2a; Mzm 1:1-4.6; Luk 11:5-13.

Berdoalah dengan tak jemu-jemu. Ia pasti mengulurkan tangan untuk orang yang menyerahkan hidup pada-Nya dan hanya mengandalkan Dia. Tapi sadarilah: Ia hanya akan mengabulkan doa-doa permohonan yang memang akan baik bagi kita! Ia tidak akan memberikan batu atau kalajengking yang mencelakakan.

Jumat, 07 Oktober : Jumat Pertama - Peringatan Wajib Sta. Perawan Maria Ratu Rosario (P).
Yl 1:13-15 – 2:1-2; Mzm 9:2-3.16.8-9; Luk 11:15-26.

Bila kita menyediakan tempat dalam hidup kita untuk bercokolnya iblis, maka iblis akan mengajak teman-temannya untuk pesta di dalam diri kita dan mereka akan semakin menguasai kita. Maka, sekecil apa pun tawaran iblis, harus kita tolak. Sekali terjerumus, bersiaplah untuk tenggelam.

Sabtu, 08 Oktober: Hari Biasa Pekan XXVII (H).
Yl 3:12-21; Mzm 97:1-2.5-6.11-12; Luk 11:27-28.

Orang yang hanya digerakkan oleh keinginan-keinginan pribadinya adalah orang yang sedang merintis jalan menuju hutan belantara penuh kegelapan. Jangan biarkan diri kita tersesat! Pegang kompas Firman Allah dan ikuti, maka kita pasti akan sampai pada tempat yang terang, damai dan sukacita.

Minggu, 09 Oktober : Hari Minggu Biasa Pekan XXVIII (H).
Yes 25:6-10a; Mzm 23:1-6; Flp 4:12-14.19-20; Mat 22:1-14 (Mat 22:1-10).

Perjamuan meriah akan diadakan. Hidangan sudah disediakan. Kita semua diundang. Kalau kita rindu perjamuan itu, baiklah kita bersiap diri untuk hadir di sana. Jangan sampai kita terlalu sibuk dengan segala keduniaan, sehingga lupa mempersiapkan diri. Layakkanlah diri kita untuk hadir dalam perjamuan kehidupan itu!

Surat Kepada Keluarga bulan Oktober 2011

IBU KEHIDUPAN SEJATI


Keberadaanmu sebagai Ibu menunjukkan kehadiran

Dalam keheninganmu engkau menghidupkan

Dalam keibuanmu, engkau mengajar

Dan membiarkan Sang Putera bertumbuh sebagaimana ada-Nya

Seorang isteri mengenal suami dan anak-anaknya

Memanggil dengan hati sambil menggerakkannya

Keluarga pun menjadi kudus sebagaimana kehendak Allah

Menjadi matang dalam perjuangan karena bekerjasama

Doakanlah kami keluarga-keluarga kristiani, ya Bunda Maria.

Keluarga Keluarga yang terkasih,


Oktober selalu menjadi bulan menyenangkan, ketika kita dapat merayakan kemesraan bersama sang Bunda dalam doa bersama. Bunda yang kita hormati mengajak kita pertama-tama untuk meneladan cara hidupnya, dan selanjutnya memperkenalkan kita pada cara memastikan keselamatan terjadi, yaitu dengan iman yang utuh dan tak tergoyahkan.

Melihat kehidupan keluarga-keluarga katolik yang setia dan beriman amat meneguhkan, seolah olah Allah dihadirkan dalam kebahagiaan dan kedalaman hidup mereka. Sebaliknya, melihat begitu banyaknya tragedi di antara keluarga; isteri dan suami, ibu dengan anak, ayah dengan anak, atau antar saudara di rumah. Semua membawa keraguan, seolah Allah “tidur” dan enggan hadir di sana.

Seperti Maria yang telah bekerjasama dengan Bapa tidak hanya menuntut-Nya hadir dalam keluarganya yang penuh dengan pertanyaan. Ia bekerjasama mewujudkan kehadiran Allah dalam kebersamaannya dengan Yesus dan Yosef, suaminya. Maria adalah simbol ibu, perempuan, kewibawaan, pendamping iman, dan pendoa yang ideal, yang memungkinkan keluarga kudusnya menjadi demikian hebat. Allah hadir bukan dengan kuasa ajaib saja, tetapi dalam kerjasama untuk “mengurus” keluarga sebagaimana menjadi tanggung jawabnya.

Ketika keluarga-keluarga bermasalah, apa yang kita lakukan? Apakah kita suka melarikan diri dalam kemarahan pada anggota keluarga lain? Membela diri dengan memukul? Menyembunyikan diri dengan memilih perempuan atau laki-laki lain? Atau kita menghadapinya sampai titik darah penghabisan, dalam tangisan yang tidak cengeng, menampilkan ketangguhan yang percaya bahwa Allah menyertai kita dalam situasi apapun?

Mungkin ada begitu banyak permasalahan dalam keluarga kita, sampai kapanpun. Maria telah menghadapinya dan terbukti beriman dan setia. Jawaban “Fiat Voluntas Tua” yang amat terkenal itu tidak pernah diingkarinya sendiri. Kita punya banyak kesempatan untuk mengubah hidup keluarga kita dengan gaya hidup ini. Menerima situasi kita dan berjuang untuk sesuatu yang makin mengarahkan keluarga kita pada Allah, dengan kerja keras kita.

Ketika kita berdoa kepada Maria, kita tidak semata-mata meminta banyak rahmat, tetapi terutama kita mau bersekolah bersama sang ibu kehidupan, yang mengajar melalui perbuatannya itu. Berdoalah dengan tekun sambil tidak lupa belajar dari Sang Bunda bagaimana mengatasi hidup dengan ketangguhan dan iman yang hidup seperti dimilikinya.

Masalah pernikahan beda agama, perceraian, anak-anak yang mengalami kesulitan belajar, ketidaksetiaan, kemalasan rohani, kemiskinan, kesibukananggota keluarga, komunikasi, dan lain-lain akan selalu ada. Tetapi kalau rumah kita menjadi tempat pendidikan nilai yang berhasil, niscaya hambatan yang mungkin terjadi dapat lebih baik diatasi dalam terang iman.

Keluarga-keluarga katolik terkasih, Allah tidak hanya menghadapkan kita pada kesulitan dan persoalan dalam hidup ini. Sejak semula,Ia juga memberi kita kemampuan belajar, mengubah cara hidup, menyelesaikan persoalan dan bekerjasama dengan Dia. Kesempatan untuk berjuang itu diberikan selama hidup yang hanya sekali ini. Seperti siang dan malam, Tuhan setia hadir setiap hari, dari tempat-Nya yang tersembunyi. Jangan takut, bersama Ibu Kehidupan, kita belajar menjadi umat dan anak-anak Allah yang pantas dibanggakan.

Semoga setiap keluarga meneladan Sang Bunda dan mendapat mahkota kehidupan dalam terang iman, pimpinan Roh Kudus, dan kesejahteraan yang tak lekang dimakan kegelisahan dunia ini.

Tuhan memberkati!


Rm. Alexander Erwin Santoso MSF

Senin, 03 Oktober 2011 Hari Biasa Pekan XXVII

Senin, 03 Oktober 2011
Hari Biasa Pekan XXVII

“Selama suami-istri menepati kewajiban mereka dalam perkawinan dan keluarga, mereka diresapi oleh semangat Kristus.” (Gaudium et Spes 48)

Antifon Pembuka

Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hati dan segenap jiwamu, dengan segenap kekuatan dan segenap akal budimu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Doa Pagi

Tuhan, pengalaman Nabi Yunus yang kurang berkenan di hati-Mu dapat menyulitkan orang lain. Akan tetapi, di lain pihak juga menyadarkan akan kebesaran-Mu. Maka bimbinglah aku untuk melaksanakan kehendak-Mu dalam diriku sehingga nama-Mu semakin dimuliakan. Amin.

Kehendak Allah itu sangat kuat dan luar biasa. Walau merasa kurang mampu, bila Allah sudah berkenan, maka orang tidak mampu menolak tugas dari-Nya. Karya keselamatan Allah harus tetap terlaksana. Yunus pun berusaha lari karena menolak tugas dari Allah. Melalui peristiwa angin ribut dan seekor ikan, Allah menunjukkan karya-Nya bagi keselamatan manusia.

Bacaan dari Nubuat Yunus (1:1-17; 2:10)

"Yunus siap melarikan diri dari hadapan Tuhan."


Datanglah sabda Tuhan kepada Yunus bin Amitai demikian, “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan berserulah terhadap mereka, sebab kejahatannya telah sampai kepada-Ku.” Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan. Ia pergi ke Yafo, dan di sana mendapat sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan. Tetapi Tuhan menurunkan angin ribut ke laut; lalu terjadilah badai besar sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur. Awak kapal menjadi takut; masing-masing berteriak kepada allahnya, dan mereka membuang segala muatan ke dalam laut untuk meringankan kapal. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah, dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak. Datanglah nahkoda mendapatkannya sambil berkata, “Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allahmu itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa.” Lalu berkatalah mereka satu sama lain, “Marilah kita buang undi, supaya kita tahu, karena siapa kita ditimpa malapetaka ini.” Mereka lalu membuang undi, dan Yunuslah yang kena. Maka berkatalah mereka kepadanya, “Beritahu kami, karena siapa kita ditimpa malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang? Manakah negerimu dan dari bangsa manakah engkau?” Sahut Yunus kepada mereka, “Aku ini seorang Ibrani. Aku takwa pada Tuhan, Allah yang menguasai langit, yang telah menjadikan laut dan daratan.” Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya, “Apa yang telah kauperbuat?” Sebab orang-orang itu tahu, bahwa ia telah melarikan diri, jauh dari hadapan Tuhan. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka. Bertanyalah mereka, “Akan kami apakan dikau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi? Sebab laut semakin bergelora.” Sahut Yunus kepada mereka, “Angkatlah aku dan campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kalian lagi. Sebab aku tahu, karena akulah badai besar ini menyerang kalian.” Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka. Lalu berserulah mereka kepada Tuhan, katanya, “Ya Tuhan, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini, dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, Tuhan, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki.” Kemudian mereka mengangkat Yunus dan mencampakkannya ke dalam laut. Maka laut berhenti mengamuk. Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada Tuhan, lalu mempersembahkan kurban sembelihan kepada Tuhan serta mengikrarkan nazar. Maka atas penentuan Tuhan datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus. Dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya. Lalu bersabdalah Tuhan kepada ikan itu, dan ikan itu pun memuntahkan Yunus ke darat.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Engkau mengangkat nyawaku dari dalam liang kubur.
Ayat. (Mzm 2:2,3,4,5,8)

1. Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku. Dari tengah-tengah alam maut aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.
2. Engkau telah melemparkan daku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.
3. Aku berkata, “Telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?”
4. Ketika jiwaku letih lesu dalam diriku, teringatlah aku kepada Tuhan, maka sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Yoh 13:34)
Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan; yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu.

Pada dasarnya, tiap orang tidak mau repot. Ia sibuk mengurus diri sendiri dan tidak peduli dengan keadaan orang lain. Sikap cuek ini menjadi akar segala permasalahan di dalam hidup bersama. Sikap orang Samaria yang peduli dan mau ‘repot’ telah mempermalukan orang-orang beragama yang sok suci. Ia memberikan diri sepenuhnya untuk menyelamatkan sesamanya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (10:25-37)

"Siapakah sesamaku?"


Pada suatu ketika, seorang ahli Kitab berdiri hendak mencobai Yesus, “Guru, apakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Benar jawabmu itu. Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata lagi, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya, dan sesudah itu meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu. Ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu. Ketika melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datanglah ke tempat itu seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan. Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasih. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya, ‘Rawatlah dia, dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya waktu aku kembali’. Menurut pendapatmu siapakah di antara ketiga orang ini adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasih kepadanya.” Yesus berkata kepadanya, “Pergilah, dan lakukan demikian.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Cinta adalah jalan menuju kehidupan kekal. Cinta pertama-tama bukan soal perasaan atau afektif semata, bukan soal romantis saja, melainkan sungguh efektif dalam kehidupan. Cinta itu berkaitan langsung dengan sebuah tindakan nyata bagaimana saya berbuat sesuatu bagi sesama. Kisah orang Samaria yang baik hati menjadi contoh yang sungguh mengharukan. Kendati orang yang jatuh ke penyamun-penyamun adalah musuhnya, tetapi terdorong oleh kasih yang mendalam, kasih yang efektif, ia membuang segala penghalang dan berbuat sesuatu baginya. Yesus meminta kita untuk pergi dan berbuat demikian,

Doa Malam


Allah yang berbelas kasih, terangilah jalan hidupku untuk mengasihi-Mu dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budiku. Buatlah aku peka akan penderitaan sesama di sekitarku sehingga terwujudlah cinta kasih kepada-Mu dan sesama. Demi Kristus, Tuhan dan Penyelamatku. Amin.


RUAH