Rabu, 19 Agustus 2009 :: Hari Biasa Pekan XX

Rabu, 19 Agustus 2009
Hari Biasa Pekan XX

Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia -- Yoh 1:16


Doa Renungan

Allah Bapa yang maha pengasih , syukur atas kasih karunia yang boleh kami rasakan hari ini. Juga atas sabda-Mu yang mengingatkan kami untuk senantiasa bermurah hati kepada siapa saja. Buatlah kami menjadi perpanjangan tangan-Mu di dalam kehidupan kami terutama untuk membantu mereka yang berkekurangan. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Hakim-Hakim (9:6-15)

"Kalian berkata, “Seorang raja akan memerintah kami.”, padahal Tuhanlah rajamu."

Sekali peristiwa berkumpullah seluruh warga kota Sikhem dan seluruh Bet-Milo; mereka pergi menobatkan Abimelekh menjadi raja dekat pohon tarbantin di tugu peringatan yang di Sikhem. Setelah hal itu dikabarkan kepada Yotam, pergilah ia ke gunung Gerizim dan berdiri di atasnya, lalu berserulah ia dengan suara nyaring kepada mereka: "Dengarkanlah aku, kamu warga kota Sikhem, maka Allah akan mendengarkan kamu juga. Sekali peristiwa pohon-pohon pergi mengurapi yang akan menjadi raja atas mereka. Kata mereka kepada pohon zaitun: Jadilah raja atas kami! Tetapi jawab pohon zaitun itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan minyakku yang dipakai untuk menghormati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon ara: Marilah, jadilah raja atas kami! Tetapi jawab pohon ara itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan manisanku dan buah-buahku yang baik, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon anggur: Marilah, jadilah raja atas kami! Tetapi jawab pohon anggur itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan air buah anggurku, yang menyukakan hati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? Lalu kata segala pohon itu kepada semak duri: Marilah, jadilah raja atas kami! Jawab semak duri itu kepada pohon-pohon itu: Jika kamu sungguh-sungguh mau mengurapi aku menjadi raja atas kamu, datanglah berlindung di bawah naunganku; tetapi jika tidak, biarlah api keluar dari semak duri dan memakan habis pohon-pohon aras yang di gunung Libanon.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Ya Tuhan, karena kuasa-Mulah raja bersukacita
Ayat.
(Mzm 21: 2-3,4-5,6-7, R: 2a)
1. Tuhan, karena kuasa-Mulah raja bersukacita; betapa besar kegirangannya karena kemenangan yang dari pada-Mu! Apa yang menjadi keinginan hatinya telah Kaukaruniakan kepadanya, dan permintaan bibirnya tidak Kautolak
2. Sebab Engkau menyambut dia dengan berkat melimpah; Engkau menaruh mahkota dari emas tua di atas kepalanya. Hidup dimintanya dari pada-Mu; Engkau memberikannya kepadanya, dan umur panjang untuk seterusnya dan selama-lamanya.
3. Besar kemuliaannya karena kemenangan yang dari pada-Mu; keagungan dan semarak telah Kaukaruniakan kepadanya. Ya, Engkau membuat dia menjadi berkat untuk seterusnya; Engkau memenuhi dia dengan sukacita di hadapan-Mu.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat.
Sabda Allah itu hidup dan penuh daya, menguji pikiran dan segala maksud hati.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (20:1-16a)

"Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?"

Sekali peristiwa Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-murid-Nya, "Hal Kerajaan Surga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan



“Iri hatikah engkau karena aku murah hati?”
(Hak 9:6-15; Mat 20:1-16)

Saudara-saudari yang dicintai oleh Tuhan,
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Iri hati memang pada umumnya menimbulkan ketegangan hidup bersama yang cukup merepotkan. Sikap mental irihati biasanya muncul karena orang berpedoman pada aturan yuridis melulu dan kurang memperhatikan iman atau cintakasih; dengan kata lain orang irihati tidak/kurang beriman dan tidak tahu akan cintakasih, atau kemungkinan yang bersangkutan merasa kurang/tidak dikasihi. Orang iri hati pada umumnya juga merasa diri sebagai orang yang terpenting atau utama, sehingga minta pelayanan khusus. Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk hidup bermurah hati, artinya jual murah hatinya alias memperhatikan siapapun tanpa pandang bulu. Dengan kata lain kita di dalam kehidupan bersama dimanapun dan kapanpun dipanggil untuk saling memperhatikan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau kekuatan. Kita dipanggil untuk saling memberikan diri, dan rasanya hal ini pertama-tama dan terutama hendaknya terjadi di dalam keluarga dengan teladan dari bapak-ibu, yang hemat saya telah memiliki pengalaman mendalam untuk saling memberikan diri. Biasakan dan didiklah anak-anak anda untuk bermurah hati dengan sesamanya sedini mungkin, mulai di dalam keluarga dan kemudian diperdalam dan diperluas di sekolah serta dalam aneka pergaulan di masyarakat.

· “Jika kamu sungguh-sungguh mau mengurapi aku menjadi raja atas kamu, datanglah berlindung di bawah naunganku; tetapi jika tidak, biarlah api keluar dari semak duri dan memakan habis pohon-pohon aras yang di gunung Libanon” (Hak 9:15), demikian jawab semak duri kepada pohon-pohon. Semak duri kiranya lebih kecil daripada pohon, maka rasanya sungguh aneh dan tidak mungkin pohon berlindung di semak duri. Kutipan diatas memang hanya kiasan dan bukan kenyataan, maka baiklah kita renungkan atau refleksikan. Bahwa yang besar minta perlindungan dari yang kecil hemat saya juga terjadi dalam hidup sehari-hari, antara lain para pejabat atau petinggi kalau pergi minta pengawalan khusus, entah dilakukan oleh polisi atau pengawal lainnya, anak-anak dijadikan tameng dalam permusuhan atau peperangan, dst… Rakyat kecil memang sering kurang memperoleh perhatian di masa biasa, tetapi di saat-saat yang genting dan membahayakan pada umumnya rakyat kecil yang menjadi pejuang dan pelindung. Noordin M Top misalnya, ia selalu mencari perlindungan dari anak buah maupun orang-orang kecil dan sederhana dalam rangka melarikan diri atau bersembunyi. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk memperhatikan mereka yang kecil, lemah, miskin dan tak berdaya. Kami juga berharap bahwa mereka yang miskin, kecil, lemah dan tak berdaya menjadi ‘wahana pemerasan demi keuntungan diri sendiri’ sebagaimana telah dilakukan oleh sementara orang atau golongan. Atas nama orang miskin, kecil dan tak berdaya mencari sumbangan dan hasilnya untuk diri sendiri, begitulah yang sering terjadi. Kami juga mengingatkan dan mendambakan bahwa anak-anak kecil di dalam keluarga memperoleh kasih dan perhatian yang memadai dari orangtuanya, lebih-lebih dalam masa/usia balita.


“TUHAN, karena kuasa-Mulah raja bersukacita; betapa besar kegirangannya karena kemenangan yang dari pada-Mu! Apa yang menjadi keinginan hatinya telah Kaukaruniakan kepadanya, dan permintaan bibirnya tidak Kautolak. Sebab Engkau menyambut dia dengan berkat melimpah; Engkau menaruh mahkota dari emas tua di atas kepalanya.Hidup dimintanya dari pada-Mu; Engkau memberikannya kepadanya, dan umur panjang untuk seterusnya dan selama-lamanya “(Mzm 21:2-5)

Jakarta, 19 Agustus 2009

Ignatius Sumarya, SJ